ARTIKELLENSA KESEHATANLENSA NASIONALNEWSOPINI

Simak! Pola Makan Anti Gagal

“Beli ape bunda fani…”
“nak meli wortel buuu, fani susah bener makan sayur.”
“wah…fani macem kiki asak dak makan mi dak nek makan. Susah hati. Mane badan kiki kecit dak mesak-mesak buu”
“tu lah kateku…ape ntah masalah makan anak nih susah bener. Badan fani ge kecitlah. Ade orang madah anak ku cacingan. Ade yang bilang hati-hati kelak fani nih stunting mesege ge mungil bener”
‘weeee…buuu….jangan be…”

Percakapan didepan warung sayur seperti diatas mungkin bukan hal baru bagi kita ya Bunnn… Keluhan seputar anak-anak yang susah makan sayur, badan anak yang seperti tidak membesar serta hati yang ciut khawatir anak ada masalah atau penyakit serius di badannya.

Tapi Bun…apa yang seharusnya kita koreksi pada pola makan yang telah kita terapkan pada anak-anak kita? Apakah hal ini sudah benar ? apakah hal itu hanya kita para ibu yang terlalu tinggi menetapkan target, atau memang kita telah ketinggalan perkembangan tentang pola makan anak terbaru ? Aktifitas makan seharusnya menjadi aktifitas yang menarik dan menyenangkan tapi kenapa justru anak-anak susah makan?

Pola makan yang sehat menentukan pertumbuhan seseorang yaitu mengkonsumsi makanan yang sehat dengan gizi seimbang. Karena pola makan yang baik akan mencegah anak dari masalah-masalah gizi yang sungguh sangat merugikan anak kita, seperti misalnya mencegah terjadinya stunting yang sedang banyak dibicarakan sekarang ini.

Permasalahan stunting merupakan masalah utama di negara berkembang. Faktor penyebab stunting atau tumbuh pendek disebabkan malnutrisi kronik dengan infeksi akut berulang yang disebut stunting pada balita. Meski Tidak semua anak pendek itu stunting, namun anak stunting sudah pasti pendek. Berdasarkan studi penelitian menyebutkan bahwa stunting pada anak disebabkan oleh tidak terpenuhinya gizi yang baik pada kurun waktu yang panjang dan sering tanpa disadari oleh orang tua anak setelah usia anak diatas 2 tahun (Budiastutik and Rahfiludin, 2019).

Pemahaman tentang sumber bahan makanan

Pengetahuan tentang sumber makanan ini menentukan apa isi piring kita sehari-hari, yang penting dari masalah ini adalah kita harus seimbangkan semua zat gizinya. Contoh yang paling sering kita jumpai adalah , masih ada orang makan nasi pake mi instan! Saat ekonomi keluarga sedang sulit atau sang bunda sedemikian sibuk sehingga tidak sempat membuat makanan maka mi instant lah penyelamatnya. Nah, disinilah letak ketidak seimbangan itu. Nasi yang materinya berisi karbohidrat bertemu dengan mi yang juga berisi karbohidrat. Padahal semestinya gizi balita umumnya harus lebih banyak protein bagi pertumbuhan tulang dan otot diikuti lemak bagi pertumbuhan otak serta baru kemudian karbohidrat secukupnya. Secukupnya ya bunnn…bukan malah lebih banyak nasi dengan secuil ikan, apalagi ikan asin.

Protein karena memiliki peran besar dalam pencegahan stunting maka harus juga kita kenali, jika membeli daging demikian menguras dompet maka bunda dapat memilih protein nabati. Apa saja protein nabati itu berikut disajikan :

  1. Bahan makanan hewani. Contohnya : susu, telur ayam, daging hewan, ikan, cumi, udang dan lain lain.
  2. Bahan makanan nabati adalah contohnya : ubi, jagung, beras, kacang-kacangan, tahu, tempe dan lain lain

Jadi makanan yang sehat itu tidak harus mahal, bahkan satu butir telur sudah memenuhi zat gizi yang diperlukan. Termasuk ikan yang merupakan hasil laut atau tambak yang sekarang sangat mudah didapat.

Strategi Makan Yang Sehat Untuk Bayi Dan Balita :

  • Jika bayinya masih dalam ASI ekslusif usahakan bunda meng ASI hi dalam keadaan yang rileks dan tenang, jauhkan pikiran yang buruk dan cemas. Jika anak sudah di sapih dengan makanan padat maka penting sekali mengenalkan secara perlahan makanan yang baru pertama kali dia rasakan.
  • Berilah perasaan ceria pada saat makan dan jangan ada pemaksaan. Apabila memungkinkan ajaklah bayi bunda untuk makan bersama keluarga, suasana yang akrab dan berenergi baik tentu menjadi motivasi tersendiri bagi bayi anda untuk menghabiskan makanannya. Singkirkan mainan, komputer, gadget, tv atau hal lain selama acara makan.
  • Sayur memang penting bun..tapi jika anak tidak menyukai makan sayur maka jangan dipaksakan. Ganti sementara dengan buah sebagai sumber vitamin. Bisa dicontohkan makan sayur bersama-sama.
  • Hindari makanan manis yang berlebihan ya bun apalagi jika diberikan sebelum waktu makan, karena makanan manis memberangus nafsu makan. Sehingga ketika waktu makan tiba, makanan berupa protein yang penting justru tidak bisa terpenuhi jumlahnya. Sayang kan?

Usia, Perkembangan Anak, dan Tahapan MP-ASI

Sayang sekali diujung pembahasan pola makan yang menyenangkan ini harus kita tutup dengan pembahsan tentang contoh menu makanan bayi bawah 2 tahun. Namun hal ini menjadi penting karena stunting terjadi pada perkembangan batita. Tahapan pemberian makan yang sesuai dengan perkembangan anak berdasarkan usianya yang dapat disimak pada informasi dibawah ini.

  • Usia 0-6 bulan hanya ASI saja
  • Usia 6-9 bulan: Perkembangan anak bayi pada usia ini adalah sudah dapat memindahkan makanan dari satu sisi mulut ke sisi lainnya. Gigi depan bayi mulai tumbuh. Bayi dapat menelan makanan dengan tekstur yang lebih kental.
    MP ASI : Puree (saring) dan mashed (lumat)
    Frekuensi 2-3 kali
    Banyaknya MPASI per porsi 3 sendok makan hingga stengah mangkuk ukuran 250 ml.
  • Usia 9-12 bulan: Bayi dapat menggigit makanan dengan tekstur lebih keras, sejalan dengan tumbuhnya gigi.
  • Usia 12-23 bulan
    Mulai beradaptasi dengan segala menu makanan yang diberikan, termasuk makanan keluarga.

Nah, untuk pencegahan stunting pada anak, yuk pastikan anak mendapatkan perbaikan pola makan yang cukup jangan sampai gagal. Aturan pemberian makan (feeding rules), strategi makan yang sehat, hal yang perlu diperhatikan, serta tahapan perkembangan makan anak berdasarkan usia. Salam sehat.

Oleh : Fitri Yunita, Nila Kusumah, Cerah Puspinarti, Zulkandi
Email : nilasobrun@gmail.com
Mahasiswa S2 Fakultas Kesehatan Masyarakat UNSRI Palembang

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button