ARTIKELOPINI

Harga Sawit Merosot, Jangan Kaget! Bandar Sedang Distribusi Saham Negara Harus Pertahankan Ekspor

Oleh: Mohammad Rahmadhani **)

HARGA Tandan Buah Segar (TBS) sawit sedang merosot parah, tidak sedikit petani yang mengeluhkannya. Berbagai pabrik menaruh harga bervariasi dari mulai 1.500 hingga 1.800. Dari angka ini pun, petani sudah merugi banyak sebab nilai jual ke setiap pengepul hanya kisaran 1.200 bahkan jatuh pada harga 800 rupiah.

Alasan sederhana petani mengeluh dan rugi, yakni biaya produksi dan perawatan jauh lebih mahal ketimbang panen. Sederhana saja, biaya pupuk naik 30 persen dari harga sebelumnya, saat sawit berusia 10 tahun ke atas, setiap pohonnya paling ideal memerlukan 1 kali pemupukan dalam sebulan.

Ditambah beban biaya akomodasi sawit setiap panen. Rata-rata, panen sawit sebanyak dua kali dalam kurun waktu satu bulan. Akomodasi dimaksud beban biaya transportasi pengangkutan, upah panen dan upah timbang.

Kendati sawit sektor primadona, sejauh ini memperjelaskan kemajuan dalam sistem penanganannya, semisalnya sudah memiliki asosiasi sebagai organisasi tempat berkeluh kesah para petani, nyatanya belum memberikan hasil sesuai harapan.

Seandainya kita pakai logika ekonomi, maka fenomena seperti ini banyak dipengaruhi faktor. Namun, oleh penulis saat menganalisis ini, cukup menggunakan logika ekonomi yang diistilahkan sebagai faktor internal dan logika intervensi pemerintah sebagai faktor eksternal, hal ini supaya kita lebih mudah memahaminya.

Faktor internal yang dimaksud ialah, semestinya pemerintah sudah menyadari sedari awal dalam mekanisme ekonomi kapital yakni pasar modal, pemerintah wajib membatasi intervensinya terhadap pergerakan pasar, sebab yang bergerak di pasar modal ialah para pengusaha ataupun individu yang memiliki kapital lebih.

Adapun, yang dimaksud dengan faktor eksternal yakni fase akumulasi dan fase distribusi. Tentu, para ekonom memahami apa yang dimaksud dengan fase akumulasi, tetapi kalangan pembaca ini pun tidak semua berkalangan ekonom atau birokrat. Sangat perlu memperjelaskan akumulasi itu sendiri secara rinci dan sederhana.

Singkat dari makna akumulasi ialah salah satu cara bandar menggerakkan harga saham. Secara gampangnya, fase akumulasi ialah fase bandar memborong saham di harga rendah. Tujuannya? Mudah sekali membacanya jika mengerti hal ini “semakin sedikit jumlah barang, semakin tinggi permintaan, semakin mahal harganya”.

Kita juga sangat familiar dengan perbandingan jual beli mobil Toyota dengan Rolls Royce di pasar. Kesimpulannya, mobil merek Toyota sangat mudah ditemukan di pasar sehingga harganya pun tergolong wajar, berbeda dengan Rolls Royce tergolong sedikit produksinya, harganya pun relatif mahal. Kendati sama-sama memiliki fungsi yang sama yakni sama-sama alat transportasi.

Semoga penjelasan di atas sedikit memberikan gambaran kita untuk memahami kondisi sawit hari ini. Bahwa dalam kurun waktu setahun terkahir, pada tahun 2021 hingga pertengahan tahun 2022, dunia mengalami kelangkaan Crude Palm Oil (CPO). Sebenarnya yang melatarbelakangi kelangkaan ini ialah sejumlah bandar di indonesia bekerjama dengan jaringan global melakukan big buyer atau pembelian sebesar-besarnya atas sawit, sehingga dalam kurun waktu tadi, buah sawit segar mengalami kelangkaan.

Sebab, kunci membuat harga sama atau sawit tadi menjadi mahal ialah dengan mengurangi saham itu beredar di pasaran. Sebenarnya cara ini sangat mirip dengan praktek monopoli di pasar-pasar biasa. Harga sawit di tingkat petani pun mengalami kenaikan, meskipun tidak selamanya.

Setelah melewati fase akumulasi, para bandar biasanya menggunakan fase distribusi. Tadi, para bandar berhasil meningkatkan harga saham dengan mengurangi peredarannya. Namun bandar, tetaplah bandar yang berbeda dengan judi atau untung-untungan, sebab teori bandar memiliki perhitungan yang matang, yang intinya bandar tidak ingin merugi.

Saham yang tadi berharga menjadi tidak berharga di tangan investor, cara dengan memperbanyak peredaran di pasar. Di sini kita sudah menyadari, diagnosa awal latar belakang harga sawit murah bahwa sehatinya, sawit sedang beredar di mana – mana.

Fase distribusi ialah “semakin banyak jumlah barang, semakin mudah dijangkau, harganya pun tidak mahal”. Sejenak kondisi ini, kita diingatkan dengan kasus oversupply minyak mentah (WTI Oil). Saat itu harga minyak per barrel turun drastis, akibatnya harga saham-saham sektor pertambangan minyak pun merosot.

Momen seperti ini dimanfaatkan oleh bandar untuk membuat saham menjadi tidak berharga yaitu dengan melakukan distribusi. Apakah situasi seperti ini hanya berlaku untuk sawit? Jawabannya, tidak! Situasi ini juga berlaku untuk sektor timah, dan komoditi lainnya. Komoditi akan kembali berharga seiring dengan ada penemuan-penemuan baru supaya komoditi itu bermanfaat.

Bagaimana mana dengan peran politik? Dalam menyikapi situasi ini. Tentu, pemerintah harus punya politic will untuk menjaga iklim ekonomi warganya. Terutama iklim usaha di tingkat petani, di tengah-tengah kenaikan harga pangan, seharusnya harga sawit harus tetap stabil, sebab pemasukan sawit tidak berbanding lurus dengan pengeluarannya.

Para petani sudah memiliki perangkat asosiasi supaya aspirasi ini bisa disampaikan, minimal hasil audiensi yang disampaikan kepada pemerintah dan legislator, harga sawit tidak jatuh sampai 80 persen dari harga Rp 3.000 per kilogram. Dan sudah seharusnya, Indonesia memikirkan sistem hilirisasi pengelolaan kelapa sawit, tujuannya jumlah stok dalam negeri tetap aman, dan tetap mampu sebagai eksportir. Padahal dalam kerjasama perdagangan internasional, tidak semua negara memproduksi sawit, maka negara A semisalnya harus memenuhi kebutuhan negara B, begitu juga sebaliknya. (*)

**) Staf Khusus Wakil Ketua III DPRD Bangka Belitung (Amri Cahyadi,S.T, M.M)

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button