NEWS

Sidang PTUN: Saksi Beberkan Manfaat Nyata Hadirnya Pulomas dalam Pengerukan Muara Jelitik

Lensabangkabelitung.com, Pangkalpinang – Sidang gugatan PT Pulomas Sentosa terhadap Gubernur Kepulauan Bangka Belitung di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Pangkalpinang, Kamis, 9 Desember 2021 berisi agenda mendengarkan keterangan para saksi. Di kesaksian ini terungkap, kalau kegiatan pengerukan yang dilakukan oleh PT Pulomas Sentosa memberi manfaat bagi nelayan.

Sahidil Maulana, warga Desa Jelitik yang bersaksi di persidangan, mengatakan masyarakat nelayan merasa sangat terbantu dengan adanya aktivitas pengerukan pasir yang dilakukan Pulomas. Karena wilayah muara Jelitik yang sejak dahulu dikenal dangkal, menjadi dalam ketika dikeruk Pulomas. “Sangat membantu lalu lintas kapal,” ujar dia.

Dengan dihentikannya izin operasional Pulomas oleh Gubernur Babel, yang otomatis membuat Pulomas harus berhenti bekerja melakukan pendalaman, membuat muara kembali jadi dangkal.

“Sekarang bagaimana keadaan alur muara setelah Pulomas tidak bekerja?” tanya Adystia Sunggara, kuasa hukum PT Pulomas kepada Sahidil.

“(Sejak dihentikan) semakin parah. Nelayan sangat terganggu. Alur keluar masuk kapal jadi susah,” ujar dia.

Kesaksian manfaat kegiatan pendalaman yang dilakukan oleh PT Pulomas Sentosa juga diberikan oleh Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Babel yang menghadirkan ketuanya, Johan Murod untuk bersaksi.

Dikatakannya, persoalan dangkalnya muara Jelitik telah terjadi sejak dahulu. Karena itu, menurut dia, dulu HNSI pernah berkirim surat kepada pemerintah agar memperhatikan muara-muara yang dangkal di Babel agar diperdalam.

“Bisa jadi dulu karena surat dari HNSI. Lalu dicarilah pengusaha yang mau bantu pendalaman. Lalu, masuklah Pulomas yang bisa melakukan pengerukan. Setelah dikeruk oleh Pulomas, kapal nelayan jadi mudah keluar masuk,” tuturnya.

Lebih lanjut, Johan Murod menyampaikan kepada majelis hakim PTUN, kalau HNSI sangat mendukung adanya Pulomas, karena memberi manfaat nyata dengan aktivitas pengerukan muara Jelitik.

“Dengan adanya Pulomas, keluar masuk kapal mudah, otomatis kualitas ikan jadi terjaga. Sehingga, pengerukan itu tidak berdampak negatif, malah sangat positif. Nelayan bisa leluasa melintas. Tidak ada nelayan dan warga sekitar yang keberatan. Kami HNSI dan semua nelayan sangat mendukung Pulomas,” tuturnya.

Ketika ditanyakan majelis hakim tentang gundukan pasir di kanan dan kiri alur muara Jelitik, Johan Murod mengatakan sejak dahulu gundukan pasir itu telah ada. “Setahu saya, sejak 1982, saya sudah melihat tumpukan pasir di sana. Memang sudah ada,” ujarnya.

Direktur Eksekutif Lembaga Kelautan dan Perikanan Indonesia (LKPI) Ayub Faidiban yang siang tadi didengar kesaksiannya, bahkan mengatakan pemerintah daerah mestinya harus berbangga dan berterima kasih atas aktivitas pengerukan oleh Pulomas.

Dia pun mendengar dari nelayan. Kalau alur ini tidak bisa dikeruk setiap hari, maka nelayan tak bisa melaut.

“Kita sangat bersyukur dan berterima kasih dengan adanya Pulomas. Bekerja dengan peralatan dan anggarannya sendiri. Tidak ada dampak lingkungan di sana,” tuturnya.

Sidang gugatan PT Pulomas Sentosa terhadap Gubernur Kepulauan Bangka Belitung ini, dipimpin majelis hakim yang diketuai oleh Syofyan Iskandar, dengan didampingi oleh hakim anggota Alponteri Sagala dan Rory Yonaldi.

Donny Fahrum

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button