LENSA POLITIKNEWS

Saviat: Kami Ini Masih Hidup, Gubernur Jangan Semena-mena

Lensabangkabelitung.com, Pangkalpinang – Duduk di sisi sebelah kanan di ruang paripurna DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Saviat mengacungkan tangan. Mulutnya sambil berteriak kata interupsi. Terbilang sudah lima kali dia menampakkan ingin berbicara. Terakhir, sebelum Ketua DPRD Babel Herman Suhadi yang memimpin sidang, mengetokkan palu tanda rapat paripurna berakhir, permintaan interupsi kembali dilakukan Saviat.

Pimpinan sidang Herman Suhadi, bisa jadi memang taat aturan rapat. Interupsi hanya bisa dilakukan oleh Anggota DPRD Babel yang bersidang. Saviat pun tahu hal tersebut, dia sadar kalau cuma pasukan ‘fraksi balkon’ yang hanya punya hak mendengar. Namun, kegusaran seorang Saviat menuntun tokoh pejuang pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini untuk berbicara.

Usai rapat ditutup, Saviat pun merangsek ke depan. Dia bangkit dari tempat duduknya dan bergegas menuju podium. Dia lalu meyambar mikrofon dan segera berbicara. Suasana pun menjadi heboh, apalagi ketika beberapa pasukan pamdal atau pengaman dalam, berusaha menarik Saviat.

Peristiwa ‘interupsi’ ala Saviat itu terjadi, Sabtu, 20 November 2021 di rapat paripurna memperingati hari jadi Provinsi Babel, di DPRD Babel.

Lewat pelantang, Saviat mengemukakan ketidaksetujuannya atas keputusan Gubernur Babel Erzaldi Rosman yang memutuskan tahun ini upacara bendera peringatan hari jadi Provinsi Babel dilaksanakan di tanggal 22 November 2021, hari Senin. Tanggal itu, tegas Saviat, bertentangan dengan tanggal peringatan hari jadi Provinsi Babel tiap tanggal 21 November.

“Kami (para pejuang pembentukan Provinsi Babel -red) ini masih hidup, Gubernur jangan semena-mena. Kami masih hidup saja seperti ini, apalagi kalau kami sudah mati,” ujar Saviat, ketika dikonfirmasi tentang kejadian interupsinya yang belakangan menjadi viral tersebut.

Protes tentang tanggal upacara yang disampaikan Saviat itu, telah dijawab Gubernur Babel Erzaldi Rosman.

“Memang harusnya tanggal 21 November, tapi dalam peraturan itu tidak masalah jika situasinya bertepatan dengan hari libur apalagi tempatnya di Belitung sebagai tuan rumah,” kata Erzaldi kepada wartawan, usai rapat paripurna di DPRD Babel itu.

Peraturan yang dirujuk Erzaldi itu, yakni Peraturan Gubernur Nomor 58 Tahun 2013 yang mengatur tentang petunjuk pelaksanaan Peraturan Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Nomor 8 Tahun 2003 tentang hari jadi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Di pasal 2 Pergub Nomor 58 tahun 2013 itu terdapat aturan yang menerangkan tentang tanggal perayaan. “Apabiia tanggal 21 November bertepatan jatuh pada hari libur/hari besar, maka pelaksanaan puncak peringatan Hari Jadi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung disesuaikan dengan situasi dan kondisi,” demikian bunyi pasal 2 pergub tersebut.

Saviat menerangkan, situasi dan kondisi tanggal 21 November itu, tidak ada peristiwa besar yang bisa menghalangi adanya upacara.

“Hari Minggu 21 November tahun ini itu cuma hari libur biasa. Situasi dan kondisinya tidak ada hal atau peristiwa besar lain di tanggal itu. Semestinya upacara tetap di tanggal 21 tidak dipindah ke hari Senin,” kata Saviat.

Adapun upacara yang dilaksanakan di Belitung yang menjadi dalih gubernur sehingga harus menggeser tanggal, menurut Saviat, tak bisa dijadikan alasan perubahan tanggal.

Apalagi, jelas dia, di Pergub Nomor 58 tahun 2013 tidak ada aturan yang menyebutkan harus gubernur yang menjadi inspektur upacara.

“Di pasal 4 Pergub itu bahkan jelas harus tanggal 21 November, jamnya pun spesifik jam 7.30. Kalau tentang inspektur upacara kan tak harus gubernur. Inspektur upacara, bisa berikan kepada Bupati Belitung untuk memimpin,” ujar Saviat.

Donny Fahrum

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button