NEWS

AJI Pangkalpinang Nobar dan Diskusi Film A Thousand Cuts, Kisah Pembungkaman Jurnalis Pengkritik Pemerintah

Lensabangkabelitung.com, Pangkalpinang – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Pangkalpinang, Selasa malam, 9 November 2021, menggelar nonton bareng (nobar) dan berdiskusi tentang film dokumenter berjudul “A Thousand Cuts”. Nobar dan diskusi yang disuguhkan di Temu Kopi, Bukit Baru, itu mengangkat tema “Ancaman Serangan Digital dan Pembatasan Bersuara serta Penggelembungan Kekuasan Eksekutif Terhadap Demokrasi Indonesia”.

Film dokumenter tersebut merupakan hasil garapan Ramona Diaz yang merupakan sineas keturunan Filipina-Amerika. Film ini mengangkat sosok Pemimpin Redaksi portal berita online Rappler, Maria Ressa yang mengeksplorasi konflik antara pers dan pemerintah Filipina di bawah Presiden Rodrigo Duterte.

Kritik-kritik atas rencana pemerintahan Duterte memperpanjang masa jabatannya yang diangkat media Maria Ressa, pada akhirnya harus membuat dia mendekam di penjara selama 6 tahun dengan tuduhan penipuan dan pencemaran nama baik.

Salah satu pemantik diskusi, Rektor Universitas Bangka Belitung Ibrahim mengatakan film tersebut memiliki banyak pesan bagi jurnalis itu sendiri maupun pemerintah.

“Jadi pemerintah tidak perlu takut dengan film ini. Jangan sampai seperti yang sering di mana kita berbeda pendapat dengan pemerintah, kita dianggap melawan pemerintah atau dianggap subversif. Padahal tidak seperti itu,” ujar dia.

Menurut Ibrahim, kebebasan pers yang dimiliki dan seringnya jurnalis berteriak atas nama kebebasan pers harus dibarengi dengan pemahaman prinsip dasar pers.

“Prinsip dasar melakukan disiplin klarifikasi dan konfirmasi penting. Saya melihat prinsip Duterte yang melakukan penegakan hukum diawali dengan ketakutan sangat berbahaya sekali jika terjadi di sini. Dan Maria sudah menyampaikan bahwa data itu plutonium yang artinya sebagai alat ledak yang sangat kuat dampaknya. Sehingga itu sangat penting bagi media berpegang pada data,” ujar dia.

Jurnalis Senior Bangka Belitung Albana mengatakan perjuangan yang dilakukan oleh Maria Ressa sudah selayaknya mendapat penghargaan dari pers dan penggerak demokrasi karena hal yang dilakukan sangat menginspirasi.

“Pers adalah kekuatan terakhir demokrasi ketika eksekutif, legislatif dan yudikatif tidak berdaya seperti yang terjadi di Filipina. Namun dengan kebebasan pers di Indonesia, pers juga masih menghadapi ancaman meski lebih halus mainnya,” ujar dia.

Albana menuturkan tantangan terberat pers saat ini adalah dipilihnya media sosial sebagai alat menyuarakan aspirasi dan informasi. Hal tersebut, kata dia, terjadi karena banyak media yang tidak menjalankan fungsi kontrolnya.

“Tugas wartawan tidak lagi menerima informasi dari media sosial yang viral, karena disiplin verifikasi informasi penting untuk menghasilkan informasi bisa akurat dan benar,” ujar dia.

Penulis: Servio M | Editor: Donny Fahrum

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button