NEWS

Diprediksi Berhadapan dengan Kelompok Penentang PPKM Level IV, lni Kata Kapolda Babel

Lensabangkabelitung.com, Pangkalpinang – Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level IV untuk wilayah Bangka Belitung sudah resmi ditetapkan pemerintah pusat. Ada tiga kabupaten yang akan menerapkan PPKM level IV tersebut, yakni Kabupaten Bangka Barat, Kabupaten Belitung dan Kabupaten Belitung Timur.

Kapolda Bangka Belitung Inspektur Jenderal Anang Syarif Hidayat mengatakan pemberlakuan PPKM level III dan IV yang diterapkan dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19 di Bangka Belitung membuat petugas lapangan diprediksi akan berhadapan dengan masyarakat yang kontra.

“Oleh karena itu siapapun kita yang dari Polri dan TNI, Satpol PP maupun yang lain sebagai aparatur penegak hukum, tolong kita tidak perlu berkeras kepada mereka. Selesaikan dengan humanis,” ujar Anang saat Rapat Koordinasi Pembahasan Kebijakan Penanganan Covid-19 di Gedung Tribrata Mapolda Bangka Belitung, Sabtu, 24 Juli 2021.

Menurut Anang, sikap menolak PPKM dari kelompok masyarakat tertentu biasanya terkait dengan persoalan ekonomi. Untuk itulah dia menyarankan agar petugas bisa merangkul dan membantu menyelesaikan apa yang sedang dirasakan masyarakat.

“Jadi selalu menolak itu karena alasan lapar. Oleh karena itu mereka yang protes dirangkul. Masyarakat di mana yang lapar lakukan bakti sosial di daerahnya. Jadi bekal dan dana yang disiapkan pemerintah daerah dan sebagainya kita salurkan bersama mereka yang demo,” ujar dia.

Petugas di lapangan, kata Anang, paling jelas akan berhadapan dengan masyarakat penentang di tempat keramaian seperti pasar dan tempat ibadah. Untuk itu tindakan humanis dan soft menurut dia perlu dilakukan.

“Jalankan kesepakatan kita dengan soft. Saya juga tidak akan memerintahkan Kapolres dan jajaran untuk cepat selesai. Menyelesaikan hal ini tidak dengan kekerasan tapi dengan soft. Karena dengan soft berarti itu membutuhkan waktu, membutuhkan tekad dan ketekunan serta ketabahan,” ujar dia.

Anang mengingatkan petugas untuk mengingatkan masyarakat dengan memberikan instruksi melalui loadspeaker dan megaphone untuk memberikan ancaman secara soft.

“Misalnya diumumkan kepada para pengunjung kami beri waktu sampai 20.00 WIB dan setelah ini kami melaksanakan tes swab antigen kepada masyarakat yang belum meninggalkan tempat. Saat operasi bawa antigen 5 sampai 10. Karena satu saja yang dicolok hidung pasti yang lain kabur. Pakai soft saja dan tidak pakai usir, menampar orang atau menggebrak meja. Tidak perlu. Kasihan karena masyarakat juga ingin ekonomi tumbuh, mereka ingin makan dan dapatkan keuntungan juga,” ujar dia.

Penulis: Servio M | Editor: Donny Fahrum

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button