ARTIKELNEWSOPINI

Setetes Darah adalah Harapan Bagi Mereka yang Membutuhkan

Lensabangkabelitung.com, Sungailiat – Banyak dari kita yang tidak mengetahui perjalanan setetes darah yang kita donorkan, sejak dia keluar melewati selang lalu ditampung kedalam sekantong wadah khusus, hingga dialirkan ke pasien. Kita hanya tahu bahwa ketika kita atau anggota keluarga kita membutuhkan darah maka pihak rumah sakit akan mengusahakannya.

Perjalanan panjang setetes darah yang kita donorkan adalah harapan bagi orang lain yang membutuhkan darah tersebut. dr Egha Zainur Ramadhani, Sp. PK. Seorang dokter spesialis Patologi Klinik yang bertugas di RSUD Depati Bahrin Sungailiat, bercerita banyak mengenai hal itu.

dr Egha menjelaskan, ketika pasien diperiksa Lab, kemudian ditemukan ternyata Hb (Hemoglobin) darahnya kurang, maka dokter akan membuat surat permintaan darah. Dalam hal ini darah yang dibutuhkan apakah PRC, WB, atau trombosit atau bahkan rhesus (negatif atau positif). Selepas itu tugas tersebut akan diberikan kepada pihak terkait seperti UTD atau UDD.

“Kalau ke pihak luar RS maka ke UDD PMI. Kalau saya disini di RSUD Depati Bahrin, maka kita akan cek stok di UTD RSUD dahulu, setelah itu akan dicocokan darahnya (crossmatch),” kata dia.

Proses transfusi darah sendiri harus menggunakan rantai dingin. Rantai dingin sendiri harus terjaga temperaturnya sejak darah dikeluarkan dari kulkas darah hingga siap ditranfusikan kepada pasien. Untuk menjaga rantai dingin tersebut, maka darah disimpan didalam kulkas darah. Namun, tidak banyak rumah sakit yang memiliki kulkas darah, termasuk di Bangka Belitung. Jika darah berasal dari luar rumah sakit, maka darah yang akan dibawa tersebut merupakan tanggungjawab petugas medis, agar rantai dingin tadi tetap terjaga.

Dijelaskannya, proses tranfusi darah pun singkat, sekitar setengah jam, hanya mengalirkan darah ke pasien. Dalam prosesnya, dokter berharap semoga pasien tidak demam, kalau ada reaksi demam, maka akan di-stop (proses tranfusi darah dihentikan). Begitu di-stop, darah itu tak bisa dikembalikan. Karena darah (yang didonorkan) itu unik, dia adalah obat, tapi tak bisa diproduksi. Begitu di-stop, maka darah yang tersisa akan dibuang, karena prosedur itu sudah bagian dari risiko.

Jika darah sudah habis, maka kantong bekas darah atau darah sisa akan diperlakukan sebagai sampah medis. Sampah medis tersebut kemudian akan disimpan sementara, kalau ada yang memiliki izin mengolah, sampah medis ini akan diolah. Izin pengolahan sampah medis sendiri merupakan wewenang Badan Lingkungan Hidup yang berada dibawah Kementerian Lingkungan Hidup. Beberapa RS di Indonesia memiliki fasilitas tersebut.

Ada biaya untuk satu kantong darah
Seperti diketahui, di RSUD Depati Bahrin akan dikenakan biaya Rp 360.000 untuk tiap kantong darah. Banyak yang mempertanyakan kemana uang yang ditagih ke pasien setiap kali harus dilakukan tranfusi darah tersebut. dr Egha menjelaskan tentang itu.

1 2 3 4 5Next page

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button