NEWS

Permen PAN-RB Dinilai Tak Akomodir Aspirasi, 5000 Dosen P3K Protes

Lensabangkabelitung.com, Sungailiat – Sekitar 5000 dosen PTNB (Perguruan Tinggi Negeri Baru) yang berstatus PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) dari 35 PTN baru di seluruh Indonesia memprotes Peraturan Menteri PAN-RB nomor 72 tahun 2020 tentang Pengadaan PPPK untuk jabatan fungsional.

Kontrak Kerja Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) Perguruan Tinggi Negeri Baru (PTNB) masih menyisakan banyak masalah bagi dosen dan tenaga kependidikan. Permasalahan muncul karena masa kerja dianggap 0 tahun sejak diterima sebagai Dosen P3K, jabatan akademik diakui hanya sampai magister (S2), pengembangan karir macet dan dosen tidak diperkenankan studi lanjut selama kontrak berlangsung.

Masa kerja yang dianggap 0 tahun dalam kontrak berdampak pada penurunan standar gaji hingga 25 persen. Ditambah jabatan akademik Doktor yang tidak diakomodasi menimbulkan rasa frustasi bagi mereka yang sudah meraih gelar Doktor dengan perjuangan panjang. Sementara itu, bagi yang masih menempuh studi doktoral menjadi patah semangat karena diwajibkan memilih melanjutkan studi atau terikat kontrak.

Para dosen P3K yang tergabung dalam Forum Ikatan Lintas Pegawai (ILP) ini mengeluhkan ketentuan dalam Permen tersebut yang dinilai tidak mengakomodir berbagai aspirasi mereka yang mayoritas telah mengabdi lebih dari sepuluh tahun sebagai dosen, dimulai saat masih berstatus PTS hingga menjadi PTNB. Termasuk di dalamnya ILP Polman Babel.

Eko Sulistyo, Ketua Forum ILP Polman Babel mengatakan, pihaknya hanya menunut agar Permen yang baru ini diselaraskan dengan Perpres nomor 10 tahun 2016 tentang dosen dan tendik pada PTNB, di dalam Perpres tersebut jelas diatur hak-hak mereka namun di Permen yang baru hal itu tidak diakomodir.

Eko juga menilai, kebijakan baru tersebut lebih mirip konsep outsourcing. Bahkan tercium semacam eliminasi dosen sesuai kebutuhan kampus. Bagi mereka dosen-dosen lama yang masih berstatus P3K akan tersingkir dengan sendirinya ketika kedatangan dosen ASN yang baru. Sementara mereka yang tereleminasi ini lama berkontribusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa kurang begitu dihargai.

Penulis: Abdul Roni | Editor: Donny Fahrum

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button