ARTIKELOPINI

Kisah Mercusuar Pulau Besar

Oleh: Aldora Sallza Sabila (SMPN 2 Pulau Besar)/Juara pertama lomba menulis Cerita Rakyat Pokja Jurnalis Basel dan PWI Bangka Selatan)

KISAH ini menceritakan tentang sebuah mercusuar yang berdiri sejak masa penjajahan Belanda, mercusuar ini disebut dengan mercusuar Pulau Besar yang berada di Desa Batu Betumpang, kecamatan Pulau Besar, Kabupaten Bangka Selatan.

Mercusuar tersebut merupakan bangunan tinggi yang dilengkapi cahaya atau sorot lampu di bagian atasnya, sebagai pemandu kapal-kapal yang sedang berlayar, agar terhindar dari karang. Di pintu mercusuar terdapat tulisan yang menyebutkan jika mercusuar Pulau Besar berada di bawah pengawasan kerajaan Williem III pemerintahan kerajaan Belanda ke III dan dibangun pada tahun 1888.

Tepat di bawah mercusuar tersebut terdapat bunker yang berfungsi untuk menjadi tempat pemantauan musuh yang sewaktu-waktu masuk ke kawasan Batu Betumpang serta penjara yang digunakan untuk memenjarakan lanun atau tahanan/musuh atau masyarakat yang menentang pemerintahan saat itu.

Selain itu, ada beberapa bangunan tua di sekitar mercusuar di antaranya adalah rumah A sebagai tempat tinggal Ketua Pimpinan perang, rumah B sebagai tempat tinggal wakil pimpinan, dan rumah C, D, E sebagai tempat tinggal tamu atau anak buah perang.

Di sebuah desa yang bernama Desa Batu Betumpang di kecamatan Pulau Besar, terdapat pulau kecil berada di tengah pantai, di pulau tersebut terdapat mercusuar yang sudah tidak bisa di pakai lagi. Kala itu hiduplah sekumpulan pekerja yang bekerja untuk para Belanda ia bekerja sebagai pekerja romusha, pada zaman ini masih ada peperangan antara Belanda dan Jepang sehingga Belanda membuat mercusuar di tengah pulau pantai Pulau Besar untuk memantau para musuh yang ingin menyerang pasukan Belanda.

Pekerja romusha ini bekerja siang hingga pagi hanya untuk membangun mercusuar tersebut, tidak hanya mercusuar itu saja yang di bangun tetapi juga mereka membangun bungker dan rumah tahanan. Butuh kerja keras dan usaha untuk membangun mercusuar tersebut. Untuk mencapai mercusuar tersebut pekerja romusha membuat jalan dengan menggunakan batu-batu yang ada di pulau tersebut, alur jalannya dari pinggiran pantai menuju pulau kecil di mana letak mercusuar tersebut berada. Romusha pada masa itu menata dan membangun hamparan bebatuan besar yang berfungsi untuk menyeberang dari bibir pantai ke pulau mercusuar tersebut.

Hari berlalu pekerja romusha akhirnya menyelesaikan tugasnya membuat hamparan batu tersebut, setelah itu para pekerja romusha mempersiakan diri untuk peperangan yang akan datang, hingga akhirnya di mana peperangan itu pun terjadi, Belanda melawan Jepang untuk menguasai pulau Bangka atau Pulau Besar.

Setelah peperangan selesai banyak sekali mayat – mayat berserakan, termasuk mayat dari noni Belanda, yang di percaya hingga kini noni Belanda masih bergentayangan disekitar mercusuar tersebut, tidak semua orang bisa melihat hantu noni Belanda tersebut, hanya beberapa orang yang dapat melihatnya. Bahkan hantu noni Belanda sering menampakkan dirinya di atas mercusuar pada malam hari, dimana konon katanya ia menunggu lampu dari mercusuar itu menyala, padahal mercusuar itu sudah tidak layak atau tidak bisa di pakai lagi.

Hantu noni Belanda ini membuat para pengujung ketakutan apa bila mendengar cerita tentang noni Belanda ini, sebenarnya noni Belanda ini adalah putri dari raja Williem III yang mengikuti peperangan antar Belanda dengan Jepang, ia tewas karena tertembak oleh salah satu dari pasukan Jepang. Bukan hanya hantu noni Belanda saja yang bergentayangan di mercusar tersebut, tetapi juga terdapat hantu prajurit Belanda dan hantu pekerja romusha yang dulu membuat mercusuar tersebut.

Terkadang sering terjadi kejadian yang membingungkan, ada beberapa nelayan yang melihat lampu di mercusuar itu hidup sendiri. Kejadian ini bukan sekali dua kali tetapi banyak juga masyarakat yang sering melihat kejadian tersebut. Bukan cuma itu terkadang terdengar suara-suara yang aneh, seperti suara teriakan-teriakan yang mencekam.

Pada setiap bulan purnama datang, Noni Belanda biasannya selalu menampakan wujudnya. Konon setelah kemunculan noni Belanda tersebut banyak nelayan yang mendapatkan keanehan seperti mendapatkan ikan yang lumayan banyak ketika melaut.

Menurut nelayan yang pernah melihat kemunculan noni Belanda, beberapa nelayan yang pernah melihat kemunculan noni Belanda pun mendeskripsikan wujud dari kemunculan noni Belanda. Noni Belanda tersebut selalu memakai topi yang berwarna putih tulang, rambut yang berwarna coklat, memiliki bentuk muka yang lonjong, mempunyai kulit berwarna putih pucat, memakai gaun yang berwarna putih tulang, dan selalu membawa payung.

Kemunculan noni Belanda hanya terjadi pada saat bulan purnama, Noni Belanda tersebut merupakan sosok wanita yang cantik dan wangi setiap kemunculan noni belanda ditandai dengan harum semerbak bunga yang menyengat. Disitulah nelayan mengetahui bahwa noni Belanda akan muncul, tetapi ia tak menampakan diri, ia hanya meninggalkan harum semerbak dari bunga kasturi yang menyengat. Lama kelamaan warga di desa tersebut terbiasa dengan kejadian tersebut, mereka tidak lagi terkejut bila hantu noni Belanda tersebut muncul secara tiba–tiba.

PESAN MORAL: Bisa diartikan bahwa kemunculan noni Belanda dan para pekerja atau prajurit Belanda itu mengisyaratkan bahwa mercusuar itu harus direnovasi dan diperbaiki, agar bisa digunakan kembali dan dapat dimanfaatkan keberadaannya bagi nelayan dan masyarakat di desa Batu Betumpang dan sekitarnya. Dan untuk saat ini kita sebagai siswa yang cinta budaya dan peninggalan sejarah, kita harus menjaga kelestarian cagar budaya supaya tetap terjaga dan lestari. (*)

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button