ARTIKELOPINI

Hari Donor Darah Sedunia, Belajar dari KPD Tentang ‘Lelang Pahala’

MEMENUHI angka rata-rata 500 kantong darah per bulan, bukan pekerjaan mudah bagi UDD PMI (Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia) dan Unit Transfusi Darah (UTD) RSUD Depati Bahrin, Kabupaten Bangka. Dengan jumlah penduduk sekitar 326.000 jiwa pada tahun 2020, mencapai angka 500 adalah tantangan berat. Apalagi di tengah kondisi pandemi yang sedang mendera seluruh dunia saat ini.

Adalah Komunitas Pendonor Darah (KPD) Bangka, orang-orang dengan beragam profesi yang mendedikasikan waktu, tenaga, pikiran bahkan isi dompet demi memberikan kesempatan bagi manusia lainnya untuk melanjutkan hidup. Mengambil tanggung jawab mulia untuk menyelamatkan nyawa demi nyawa, menghibur gelisah dan cemas tiap keluarga pasien yang anggota keluarganya bergelut dengan maut.

Dimulai 12 tahun lalu, berawal dari tongkrongan warung kopi, Ahmad Aryanto atau Kinoi, bersama beberapa teman-temannya sepakat menggagas sebuah perkumpulan, untuk membantu tenaga medis yang menangani pasien yang membutuhkan darah saat tindakan medis. Seiiring waktu berjalan, perkumpulan ini bagaikan malaikat penyelamat.

Berawal dari pengalaman salah satu keluarga teman mereka membutuhkan darah untuk tindakan medis, kebetulan mereka sendiri pernah menjadi pendonor darah. Setelah salah satu di antara mereka mendonorkan darahnya, hari itu kebutuhan darah bagi keluarga teman mereka terpenuhi.

Selang 2 tahun setelah kejadian itu, Andy Gunawan, bersama-sama dengan Suharli, Edy Yuanto dan beberapa nama lainnya mengusulkan untuk membentuk sebuah wadah atau perkumpulan para pendonor darah di Bangka yang mereka beri nama KPD, kepanjangan dari Komunitas Pendonor Darah yang bermarkas di Kabupaten Bangka.

Tulus
12 tahun yang lalu, Kabupaten Bangka hanya memiliki UTD RSUD yang hari ini telah berganti nama menjadi RS Depati Bahrin. Belum ada Unit Donor Darah PMI saat itu. Meski kehilangan seseorang yang berkontribusi besar dalam kerja-kerja kemanusiaan yang mereka lakukan. Adalah Tulus, pegawai PMI yang pada saat itu selalu memberikan informasi terkait kebutuhan darah bagi pasien dari rumah sakit. Jika pesawat telepon berdering tanda panggilan telepon dari Tulus, maka kegiatan yang mereka namai sebagai “Lelang Pahala” telah dibuka. Tulus memang telah pergi, namun semangat dan ketulusannya seperti namanya, memberi dan tak pernah kembali, hidup untuk menghidupi.

Beberapa pengalaman para anggota KPD yang diceritakan Kinoi, timbul rasa kemanusiaan yang tinggi didalam jiwa para anggotanya. Bagi mereka keselamatan satu jiwa manusia tidak bisa ditukar dengan apapun. Setidaknya upaya tersebut adalah salah satu peran kecil mereka untuk memberi kesempatan bagi pasien yang sedang bergelut dengan nyawa untuk kembali bersama keluarganya.

1 2 3 4 5 6 7Next page

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button