ARTIKELOPINI

Covid-19: Diversifikasi Sistem Pendidikan Pesantren di Bangka Belitung dengan Lembaga Pendidikan Lainnya

Oleh: Subri Hasan (Kandidat Doktor Pendidikan Islam, Dosen Tetap IAIN SAS BABEL, Pemerhati Pendidikan Islam Klasik)

SELAMA terjadi pandemi covid-19 melanda, banyak negara mengalami perubahan sistem kehidupan di semua aspeknya. Tidak terkecuali Indonesia telah mengalami banyak perubahan sistem kehidupan yang berdampak pada aspek hukum, sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, pola hidup dan kebutuhan baik personal maupun sosial. Terkhusus pada aspek pendidikan mengalami perubahan sistem implementasi program pendidikan oleh karena kebijakan pemerintah yang secara mendadak memindahkan proses pembelajaran dari sekolah/madrasah menjadi di rumah. Kemudian pembatasan interaksi tenaga pendidik dengan peserta didik, sistem pembelajaran secara daring, sosial distancing dan seterusnya. Perubahan sistem pendidikan yang secara mendadak tersebut tentu membuat semua lembaga pendidikan kelimpungan dan tidak siap dalam menghadapinya hampir di seluruh wilayah Indonesia, tak terkecuali Bangka Belitung. Sebuah provinsi kepulauan kecil yang turut mengalami perubahan kebijakan sistem pendidikan yang diakibatkan oleh virus corona ini.

Selama merebaknya pandemi covid-19, sistem pendidikan dan pembelajaran pada semua lembaga pendidikan dengan semua jenjangnya baik dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi di provinsi kepulauan Bangka Belitung dialihkan menjadi sistem pendidikan mandiri dengan model daring yaitu pembelajaran yang menggunakan model interaktif berbasis internet dan learning manajemen system (LMS) yang  dilaksanakan melalui aplikasi seperti whatsapp, instagram, zoom, google meet dan lain-lainnya. Perubahan sistem implementasi pendidikan dan pembelajaran ini kemudian juga dialami oleh lembaga pendidikan Islam seperti pondok pesantren. Eksistensi dan kiprah pondok pesantren secara umum selama merebaknya wabah virus corona khususnya dalam implementasi sistem pendidikan tetap berlangsung baik secara daring maupun interaksi langsung (seperti biasa). Beberapa pondok pesantren di pulau Jawa menerapkannya seperti pondok modern Gontor dan lainnya. Sedangkan di pulau Bangka pondok pesantren salafiyah Darul Muhibbin Kemuja dan pondok pesantren Al-Islam Kemuja serta pondok pesantren lainnya sekarang sudah aktif seperti biasanya menerapkan langsung (tatap muka klasikal) pendidikan dan pembelajaran kepada para santrinya. 

Secara historis pesantren sejak awal berdirinya hingga sekarang menjadi salah satu pusat studi Islam bagi umat Islam. Implementasi program pendidikan keagamaan di pesantren dinilai efektif dan komprehensif. Karena sistem pendidikan pesantren tidak hanya melakukan transfer of konowledge tetapi lebih kepada transfer of values. Kemudian tidak hanya memberikan pemahaman secara teoritis metodologis tetapi lebih kepada pada aspek praktis empiris. Lebih dari itu bahwa sistem pendidikan pesantren tidak hanya fokus pada hapalan serangkaian teori keilmuan tetapi mengajarkan dan membiasakan diri dalam tradisi ritual, dan bahkan sistem pendidikan dan keilmuan pesantren tidak hanya secara retoris menggalakkan konsep ‘adalah, tawassuth, dan tawazun, akan tetapi bagaimana mengimplementasikannya dalam tataran praktis dalam hirarki tatanan kehidupan. Oleh karenanya, bahwa sistem pendidikan dan pola hidup pesantren boleh dikatakan merupakan miniatur masyarakat Islam ideal. Dimana pengaruhnya menyentuh pada spektrum yang lebih luas, modern, moderat dan global.

Maka membaca situasi tersebut, bahwa pesantren memiliki beberapa diversifikasi sistem pendidikan dan sistem kehidupan dengan lembaga pendidikan lainnya yang ada, baik di Bangka Belitung maupun secara umum di Indonesia. Beberapa diversifikasi tersebut diantaranya yaitu; Pertama, bahwa sistem pendidikan dan kehidupan pondok pesantren lebih menekankan pada aspek akhlak serta tafaqquh fi ad-diin. Dimana aspek ini harus diterapkan dan dipraktekkan secara langsung oleh seluruh warga pesantren, tidak bisa dengan pembelajaran secara daring, online atau lainnya. Pesantren membentuk akhlak al-karimah para santrinya dengan penerapan dan contoh langsung selama proses pendidikan dan pembelajaran berlangsung. Oleh karenanya, bagi kalangan pesantren lebih mengenal istilah “al-Aadabu Fawqo al-Ilmi”. Kedua, bahwa sistem pendidikan pesantren adalah pendidikan aflikatif bukan teoritik. Adagium pesantren dalam implementasi pembelajaran yaitu “at-Thoriiqotu Ahammu min al-Maaddah” aplikasi lebih utama daripada materi dalam makna semisalnya adalah penerapan pembelajaran dengan pemberian nilai-nilai keteladanan secara langsung lebih utama daripada pembelajaran dengan kata-kata. Oleh karenanya bagi kalangan pesantren bahwa “Lisan al-haal” lebih utama (afsoh) daripada  “Lisan al-Maqool”. Ketiga, bahwa sistem pendidikan pesantren adalah transfer of values bukan hanya transfer of knowledge an sich. Yakni internalisasi nilai-nilai tauhid, nilai-nilai ubudiyah, nilai-nilai mu’amalah dan nilai-nilai ilmiah merupakan nilai-nilai asasi pesantren yang harus ditanamkan. Dengan penerapan nilai-nilai tersebut, maka kalangan pesantren dapat survive dalam kehidupan baik dalam situasi apapun dan dalam ruang serta waktu kapanpun. Keempat, bahwa sistem pendidikan pesantren adalah “boarding school” sebuah sistem tatanan kehidupan masyarakat kecil,  yang pengelolaannya secara “long life education” belajar sepanjang hayat. Maknanya bahwa seluruh aspek dan dimensi serta segala yang terjadi di pesantren dijadikan sebagai materi dan media serta wahana untuk belajar sepenuh waktu sehingga kalangan pesantren setelahnya akan lebih siap untuk hidup pada masyarakat luas. Kelima, bahwa sistem pendidikan dan kehidupan pesantren adalah memupuk persaudaraan dan persatuan yang Bhinneka Tunggal Ika. Yakni sistem pendidikan yang holistik mengedepankan konsep wahdah (persatuan), ‘adalah (keadilan), tawassuth (persamaan), dan tawazun (keseimbangan). Bukan sistem pendidikan yang apatis, materialistis, egoistis dan pragmatis Sehingga karakter serta moralitas kalangan pesantren bisa ditempatkan dimanapun, kapanpun dan dalam kondisi apapun.

Menyikapi kebijakan pemerintah tentang implementasi sistem pendidikan pada masa pandemi covid-19, maka pondok pesantren tetap hadir menyokong dan mematuhi segala keputusan untuk melaksanakan protokol kesehatan baik secara kelembagaan maupun sistem pendidikannya. Karena bagi pondok pesantren, bahwa meninggalkan serta menjauhi segala hal yang menimbulkan kerusakan (dalam konteks corona adalah penyakit) lebih didahulukan daripada mengambil manfaat atau kemaslahatan karena menjaga keselamatan diri. Dar’ul Mafasid Muqoddamun ‘ala Jalbi al-Mashalih” Semoga Bermanfaat, Wallahu a’lam Bisshowab. (*)

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button