BANGKANEWS

Audiensi Berlangsung Alot, Nelayan dan Penambang Sungai Baturusa Tidak Capai Kesepakatan

Lensabangkabelitung.com, Merawang – Di hadapan Camat Merawang, Kapolsek Merawang, Danramil Merawang dan penambang, perwakilan nelayan Sungai Baturusa dan sekitarnya kompak menolak aktivitas penambangan di kawasan hutan mangrove di sekitar anak sungai Aik Ati. Lokasi itu persis di depan muara sungai Selindung.

Pernyataan penolakan tersebut disampaikan Samsuri, Ketua Nelayan Pagarawan yang mewakili nelayan saat menyampaikan pandangannya dalam audiensi yang berlangsung, Selasa, 22 Juni 2021. Menurut Samsuri, keberadaan aktivitas penambangan disekitar kawasan tersebut telah mengancam mata pencaharian mereka.

Samsuri juga mengeluhkan problem penambangan ilegal di kawasan tersebut sudah berlarut-larut tanpa ada solusi dari pemangku kebijakan. Meskipun tahun ini tidak mendapatkan intimidasi dari penambang, namun dia dan keluarganya masih trauma dengan kejadian serupa dua tahun lalu.

Tak hanya itu, lanjut Samsuri, banyak nelayan dari beberapa wilayah bergantung dengan kawasan tersebut. Di antaranya, nelayan Selindung, nelayan Pagarawan, nelayan Pancur, nelayan Tuatunu, nelayan Jade, hingga nelayan Baturusa juga mencari penghidupan disana turun temurun. Termasuk dirinya yang merupakan generasi ketiga.

Dikatakannya, TI ilegal di kawasan tersebut sudah kedua kalinya terjadi. Dua tahun yang lalu sempat marak TI ilegal di lokasi yang sama, namun tak berlangsung lama. Kini, nelayan dihadapkan pada situasi yang sama ketika TI ilegal kembali merusak ruang hidup mereka.

Meskipun pada awal Juni lalu pihaknya bersama-sama Satpol PP Bangka, anggota Polsek Merawang dan Pejabat Kecamatan Merawang sempat melakukan inspeksi di lokasi tersebut, namun penambag tidak bekerja saat itu. Hanya didapati 3 unit TI tak bertuan dan 1 unit TI hampir rampung dibangun penambang.

Samsuri dan kawan-kawannya juga mengeluhkan, pihaknya sudah beberapa kali menyurati berbagai pihak untuk mengatasi masalah ini. “Sampai sekarang tidak ada tindakan tegas dari pihak berwenang. Sedangkan kita mengharapkan itu untuk menimbulkan efek jera bagi para penambang,” kata Samsuri.

Camat Merawang, Jaleari saat memimpin audiensi mengatakan, pihaknya bersama kapolsek, danramil dalam hal ini hanya memfasilitasi audiensi antara nelayan sungai Baturusa dengan penambang di aula pertemuan Kantor Camat Merawang yang berlangsung pada Selasa pagi, 22 Juni 2021.

Dikatakannya, permasalahan ‘kinceng nasi’ alias mata pencaharian antara nelayan dan penambang ini harus ada solusi antar keduanya. Dia menekankan apapun hasil yang dicapai, itu dikembalikan kepada kedua belah pihak. Yakni nelayan dan penambang. Dia mengapresiasi kedua belah pihak bersedia duduk bersama untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Sementara dari penambang diwakili Leo, warga Selindung. Dalam kesempatan tersebut Leo menyampaikan, pihaknya menawarkan solusi untuk membendung pembuangan dari tambang agar tidak mencemari sungai, namun solusi itu ditolak nelayan.

Samsuri yang menimpali usulan tersebut berdalih, lumpur buangan bisa saja dicegah dengan dibendung, namun dia mempertanyakan bagaimana dengan ekosistem yang bergantung dengan hutan mangrove disana. “Ikan, udang, siput, kepiting dan kawan-kawannya bertelur di sana, di akar-akar mangrove. Mereka tidak bisa berkembang biak di lumpur dan tanah,” jelas Samsuri.

Pada akhir audiensi, salah satu perwakilan dari penambang berbicara dengan nada tinggi. Pihaknya tidak bisa menghentikan tambang yang sudah berjalan karena lahan yang dikerjakaan saat ini sudah mereka beli. Mendengar hal itu, nelayan dan pemimimpin audiensi hanya terdiam. Audiensi langsung diakhiri tanpa ada kesepakatan antara kedua belah pihak.

Penulis: Abdul Roni | Editor: Donny Fahrum

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button