NEWS

Akibat Mati Mesin, Kapal Nelayan Sempat Terombang-ambing Lebih dari 24 Jam

Lensabangkabelitung.com, Pangkalpinang – Badan SAR Nasional (Basarnas) Bangka Belitung berhasil melakukan operasi penyelamatan evakuasi nelayan akibat kapal mati mesin di Perairan Pantai Rebo Sungailiat, 30 Mei 2021. Sebanyak delapan nelayan di kapal itu berhasil dievakuasi dalam operasi ini.

Kasi Operasi Basarnas Bangka Belitung, Danu Wahyudi kepada Lensabangkabelitung.com, mengatakan, awal mula anggotanya mendapat laporan dari Agus, pemilik kapal. Kemudian, anggotanya meneruskan laporan tersebut ke kantor.

Dikatakannya, kronologis kejadian yang diperoleh saat itu bahwa pada hari Sabtu, 29 Mei 2021 sekitar pukul sepuluh malam, Gama (34) dan Arip (45) berangkat dari Dermaga Lintas Timur untuk memancing bersama enam orang lainnya di sekitar Perairan Tiang Patah di depan Pantai Rebo Sungailiat Kabupaten Bangka dengan menggunakan kapal nelayan milik Agus. Namun hingga keesokan harinya, kapal belum kembali. Agus lalu melaporkan ke anggotanya kemudian diteruskan ke Command Center Basarnas Bangka Belitung.

Kantor SAR Pangkalpinang kemudian berkoordinasi dengan pemilik kapal dan potensi SAR terkait. Kepala Kantor SAR Pangkalpinang selaku SAR Mission Coordinator (SMC) Fazzli memberangkatkan tim penyelamat ke lokasi untuk melaksanakan operasi SAR dengan menggerakkan tiga orang anggotanya dengan menggunakan Rigid Inflatable Boat (RIB) 03 dengan panjang 12 meter yang sandar di dermaga Ditpolair Polda Babel.

Saat tim pencarian berhasil menemukan kepal, kondisi kapal mati mesin dan terombang-ambing di laut pada jarak 10.8 mil dari garis pantai. Saat itu juga tim mengevakuasi delapan orang ke RIB 03 untuk di bawa ke darmga Ditpolairud Polda Babel.

Dijelaskannya, karena tanggung jawab Basarnas adalah keselamatan jiwa manusia, maka pihaknya tidak bisa melakukan evakuasi terhadap harta benda termasuk kapal yang mati mesin. Untuk itu, pihaknya bekerjasama dengan potensi SAR terkait yakni nelayan sekitar yang memang sudah lama bersinergi dengan Basarnas.

“Sesuai dengan Undang Undang, Basarnas bertanggungjawab terhadap kecelakaan, pelayaran, penerbangan, bencana (Bencana tanggap darurat itu di BPBD) dan kondisi membahayakan manusia,” tutur Danu.

Dia melanjutkan, kapal yang dalam kondisi mati mesin kemudian ditarik oleh kapal nelayan yang saat itu melintas dan dimintai pertolongan untuk menarik kapal mati mesin kembali ke darmaga Lintas Timur. Adapun cuaca di lokasi saat itu berawan dan hujan sehingga diperlukan kehati-hatian oleh tim yang saat itu sedang berada dilokasi dalam melakukan pencarian dan evakuasi.

Danu juga berpesan, untuk keselamatan diri pada saat berlayar sebauknya disiapkan logistik, alat bantu apung, navigasi, komunikasi. “Yang tak kalah penting itu komunikasi. Dan tolong digarisbawahi dan dicetak tebal, yakni kondisi cuaca, kalau cuaca gak baik lebih baik jangan melaut. Itu saja pesan saya,” ujar Danu.

Danu juga menginformasikan kepada khalayak ramai, apabila ada masyarakat Babel yang membutuhkan pertolongan dapat menghubungi Basarnas Call Center 115.

Penulis: Abdul Roni | Editor: Donny Fahrum

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button