NEWS

Kadar Zircon Dioxide PT CAL Cuma 64,48 Persen, Komisi VII DPR: Sucofindo Lalai

Lensabangkabelitung.com, Pangkalpinang – Pemeriksaan terhadap zircon milik PT Cinta Alam Lestari (CAL) yang ekspornya disetop oleh Kementerian ESDM dan Komisi VII DPR masih berlangsung. Namun beberapa pihak menduga ada pelanggaran terhadap produk zircon PT CAL terkait kadar batas minimum pengolahan.

Dalam Certificate of Analysis PT CAL yang diterima Lensabangkabelitung.com, kadar zircon dioxide milik perusahaan yang beralamat di Jalan Raya Sungailiat Dusun I RT 01 Pagarawan Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka itu adalah 64,48 persen.

Dari keterangan yang tertulis di CoA itu, Sucofindo melakukan pengambilan sampel pasir zircon dilakukan pada 12-13 Februari 2021 bertempat di gudang PT CAL. Data masuk sampel ke Sucofindo pada tanggal 18 Februari 2021 dan dianalisis pada 19-22 Februari 2021. Uji yang dilakukan adalah zirconium dioxide dan mesh No. 60.

Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Patijaya menilai ada kelalaian dari pihak Sucofindo dalam melakukan tugasnya memverifikasi pasir zircon milik PT Cinta Alam Lestari (CAL) yang akan diekspor ke China.

“Kelalaian yang dilakukan pihak Sucofindo diduga sudah terjadi sejak awal karena sesuai regulasi batas minimum pengolahan zircon adalah 65,66 persen. Tindakan penyetopan ekspor PT CAL yang dilakukan Kementerian ESDM dan Komisi VII dinilai sudah tepat,” ujar Bambang kepada Lensabangkabelitung.com, Selasa malam, 6 April 2021.

Bambang menuturkan tata kelola ekspor zircon dan Logam Tanah Jarang (LTJ) sudah diatur oleh Kementerian ESDM melalui Direktorat Jenderal Minerba.

“Batasan minimum pengolahan sudah jelas yakni kadar minimal 65,66 persen. Dan adanya Laporan Surveyor (LS) untuk verifikasi batasan minimum pengolahan itu yang dalam hal ini dikeluarkan Sucofindo. Jika sudah sesuai, tidak memerlukan persetujuan ekspor lagi,” ujar dia.

Menurut Bambang, kegiatan pengolahan zircon sebagai produk utama pasti akan menghasilkan produk samping LTJ, yakni dalam bentuk ilmenit yang ekspornya juga harus memenuhi batasan minimum pengolahan.

“Jadi negara tidak akan dirugikan sepanjang zircon sebagai produk utama dan produk samping LTJ-nya itu sama-sama memenuhi batas minimum pengolahan,” ujar dia.

Kepala Unit Pelaksana Sucofindo Pangkalpinang Rafli masih diupayakan dimintai keterangannya terkait ekspor zircon PT CAL yang diduga ilegal tersebut. Pesan SMS yang disampaikan wartawan belum mendapat balasan. Dan saat dihubungi melalui sambungan telpon di nomor yang biasa digunakannya terdengar nada operator bahwa panggilan dialihkan.

Namun pada saat penyetopan ekspor PT CAL beberapa hari lalu, kepada wartawan Rafli mengatakan pihaknya sudah melakukan verifikasi dan hasilnya juga baik. Selain itu, kata dia, semua dokumen juga dicek Bea Cukai dan unsur lain, terutama terkait perpajakan.

“Mereka (PT CAL) juga harus membayar kewajiban mereka. Mereka pasti submit sebagai lampiran. Pasti mereka akan menyerahkan ke Bea Cukai. Kami juga melaporkan ke Bea Cukai by system, yakni di Indonesia National Single Window (INSW) kami upload LS-nya. Bea Cukai bisa cek disitu juga. Hasilnya nanti akan ada lampu merah atau lampu hijau dari Bea Cukai. Kalau misalnya dia tidak lolos dari kami hasil lab pasti dari Bea Cukai juga akan ngasih lampu merah,” ujar dia.

Penulis: Servio M | Editor: Donny Fahrum

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button