NEWS

Banyak yang Mengira Asli, Ahon Bakar ‘Sepeda Motor’ untuk Papanya di Surga

Lensabangkabelitung.com, Jebus – Ahon, tak menyangka. Sebuah ‘sepeda motor’ dengan plat BN 4670 RJ yang dibakarnya dalam tradisi cengbeng, menimbulkan kehebohan.

Seperti umumnya orang Tionghoa lainnya, tahun ini Ahon tak melewatkan tradisi Cengbeng. Minggu pagi, 4 April 2021, dia bersama anggota keluarganya sudah berada di perkuburan Konghucu di Jebus, Bangka Barat.

Yang pertama ditujunya adalah makam papanya, almarhum Aca Chia atau Cahayadi Hermin Kianto yang baru meninggal dunia satu bulan lalu, setelah sempat salah minum obat dan menimbulkan reaksi yang berujung meninggal dunia.

Pagi tadi, usai membersihkan kuburan dan berdoa, selanjutnya Ahon dan anggota keluarganya pun membakar kimci, sejenis kertas sembahyang dan uang-uangan berbahan kertas. Dalam tradisi Konghucu, itu diyakini sebagai bekal bagi orangtua ataupun leluhur di akhirat.

Tak cuma kimci, turut pula dibakarnya sepatu dan baju-baju dari bahan kertas yang dibelinya di toko. Juga, sebuah sepeda motor.

Nah, prosesinya saat membakar sepeda motor itulah yang kemudian menimbulkan kehebohan. Videonya bahkan viral di media sosial, terutama Facebook.

Tak sedikit yang mengira, kalau sepeda motor yang dibakar Ahon adalah asli. Padahal, dijelaskan Ahon, sepeda motor itu adalah replika.

“Itu dibikin dengan mencontoh dari motor aslinya. Dibuat dari tripleks, bambu dan kertas. Yang aslinya itu, cuma ban dan jok saja,” ujar Ahon, kepada Lensabangkabelitung.com, Minggu, 4 April 2021.

Replika sepeda motor itu, dipesan dari pembuatnya di Parittiga. “Kenapa saya buat itu sepeda motor, karena papa itu semasa hidupnya suka naik motor. Dari pagi sampai malam keliling terus naik motor,” ujar anak ketiga dari empat bersaudara itu.

Setelah selesai dibuat, selanjutnya tak lupa, replika sepeda motor itu diberi plat nomor polisi, sesuai dengan nomor aslinya, BN 4670 RJ.

“Setelah kami kirimkan (dengan dibakar -red), semoga papa tambah berbahagia di surga,” ujar dia.

Ahon pun bisa memaklumi atas ketidaktahuan dari orang-orang yang lantas berkomentar macam-macam. Dia pun memberi maaf.

“Itu buat masyarakat, jangan nerka-nerka lagi. Karena berhubungan dengan keyakinan aku Konghucu,” tutur dia.

Donny Fahrum

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button