ARTIKELOPINI

Anak-anak yang Kehilangan Peran

Oleh: Rizky Sadewa (Jurnalis Lensa Babel)

BELITONG, atau Belitung, ya itu sama saja. Yang berbeda hanya dalam penyebutan vokalnya. Yang diketahui Belitung adalah pulau kecil kaya timah dalamnya.

Namun itu dulu, era lampau sebelum ‘berlian’ muncul di masa penghabisan timah. Berlian yang menggeser pandangan di Belitung bukan hanya soal tempat mengeruk galian dalam tanah. Belitung punya alam yang jauh lebih mahal ‘dijual’ ketimbang timah.

Berlian itu anak-anak kecil asli Belitong. Dua belas anak yang ciamik berakting di Film adaptasi novel mahakarya Andrea Hirata. Laskar Pelangi. Film yang mengisahkan kesenjangan sosial dunia pendidikan yang terjadi di Belitung masa lampau.

Ikal, Lintang, Kucai, Mahar, Harun, Sahara, A Kiong, Borek, Flo, Syahdan, Trapani, juga gadis manis keturunan cina, si A Ling sukses. menjual Belitung dengan label jauh lebih sexy dipasaran dunia. Benar, pariwisata.

Sejumlah scene yang dimainkan anak lokal di film itu turut juga nimbrung paras cantik Belitung yang belum diketahui dunia.

Paling lekat diingatan kala Lintang menjelaskan ke kawan-kawannya tentang bagaimana terbentuknya pelangi diatas laut biru Pantai Tanjung Tinggi. Hmmm… Mejikuhibiniyu ucapnya sebelum Ibu Mus mengajak Laskar Pelangi untuk pulang. Itu adalah scene dengan view sangat menakjubkan.

Namun, apalah arti jajaran batu granit indah pantai Tanjung Tinggi kala itu jikalau dua belas anak-anak itu bermain buruk dalam lakonnya. Gantong, Manggar, Tanjungpandan, bisa jadi hanya penyebutan nama daerah dalam peta tanpa khalayak umum tau dimana letaknya.

………
Time flies so fast yaa
Sampai di tahun 2021. Menjajaki usia tiga belas tahun sejak penayangan perdana Film Laskar Pelangi tanggal 25 September 2008 silam. Boleh dikatakan hari dimana jadi titik balik Belitung merubah paradigmanya. Jadi tempat wisata. Tujuan para pelancong menghibur diri.

Berubah, Belitung sejak saat itu berubah dengan cepat. Tempat destinasinya bukan lagi dilirik lokal, tarafnya sudah Internasional.

Tentang dua belas anak-anak tadi bagaimana? ya, berubah juga. Berubah hingga tak dikenali lagi. Tenggelam tak berkabar dan dilupakan.

Sampai di mana saat bertemu dengan Yogi Nugraha, si pemeran Kucai di film itu. Ketua kelas yang menjadi panjang tanganya Cut Mini si Ibu Mus menertibkan murid-murid SD Muhammadiyah dikelas.

Dengan hangat si ketua kelas berbagi cerita tentang dia dan teman-temannya saat ini. Dua belas anak hebat itu saat ini berada dibelitung. Yang berbeda hanya Verrys Yamarno, si pemeran Mahar. Hanya jasadnya saja di tanah Belitung. Pelantun bunga seroja telah mendahului teman-temannya pada 12 Januari 2015 lalu. Dia berada ditempat yang jauh lebih indah, di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kucai menjelaskan usai film, memang tak semuanya meninggalkan Belitung. Ada juga beberapa yang tetap berada di negeri Laskar Pelangi. Yang tak menetap adalah anak-anak yang melanjutkan pendidikan Sarjana. Hadiah beasiswa dari Pemerintah Daerah kala itu.

Kucai pun begitu, dia pergi dari Belitung menuju Jakarta melanjutkan pendidikan. Mengejar cita-citanya. Namun Kucai tak beruntung, kuliahnya di Institut Kesenian Jakarta tak selesai, sebab, keasyikan nyambi sebagai crew art di banyak film layar lebar nasional. Sampai akhirnya dia berpikir ibu kota terlalu keras dan memilih untuk kembali ke Belitung Desember 2018 lalu.

Balik ke Belitung dia sudah siap berjuang. Label aktor cilik pemeran Kucai Laskar Pelangi pun telah ditanggalkan. Sebab tak bisa membuat perut kenyang. Segala profesi dilakukannya, jadi sopir travel, petugas service AC, terakhir yang digelutnya saat ini adalah sebagai supir kargo jasa pengiriman. “Apa saja, yang penting halal dan sesuai kemampuan,” jelasnya.

Kucai hanya sampel kecil cerita anak-anak pemeran Laskar Pelangi saat ini. Lantas, bagaimana dengan sisa sepuluh anak yang lainnya? Ternyata tak jauh berbeda juga. Anak-anak lokal yang telah berperan besar menjual Belitung ke pasar dunia itu telah ‘kehilangan peran’.

Benar-benar kehilangan peran, sebab, tak pernah lagi dilibatkan dalam promosi daerah. Laskar pelangi CS cuma sebagai penonton kala gelar Festival dan hari jadi daerah rutin dilaksanakan tiap tahunnya. Begitupun dengan gelaran yang mengangkat cerita rakyat. Mereka tak pernah diajak.

Kalaupun soal akting atau menghapal script rasanya anak-anak itu tak kesulitan. Mereka sudah berpengalaman. Apalagi jika dalam event tersebut tertulis diperan atau dimeriahkan oleh anak-anak pemeran film Laskar Pelangi rasanya bakal menarik peminat. Nilai jualnya tinggi.

Pada dasarnya anak-anak yang telah membuat bangga Belitung itu ingin terus berperan memajukan pariwisata. Ide mereka banyak, namun tak pernah mendapatkan wadah. Liriklah mereka kembali. (*)

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button