NEWS

Dialog Harlah NU ke-95, Kompolnas dan Polda Babel Bahas Radikalisasi dan Teroris

Lensabangkabelitung.com, Pangkalpinang – Persoalan radikalisme, terorisme dan intoleransi menjadi topik pembahasan utama kegiatan dialog kebangsaan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama (NU) ke-95.

Anggota Kompolnas Muhammad Dawam mengatakan saat ini pihaknya sedang menyusun rekomendasi sebagai pedoman bagi Presiden Joko Widodo untuk menetapkan kebijakan terkait persoalan radikalisasi, terorisme, politisasi agama dan ekstremis.

“Tahun ini kita sedang melakukan kajian untuk jadi pedoman penetapan kebijakan pemerintah. Semua persoalan itu tentu akan kami lakukan dengan basis kajian, basis data dan basis ilmu. Kemudian itu dirangkum agar menjadi produk kebijakan,” ujar Dawam kepada wartawan usai Dialog Kebangsaan Harlah NU ke-95 di Bangka City Hotel, Rabu, 10 Februari 2021.

Dalam upaya mewujudkan program presisi, kata Gus Dawam, kapolri telah melakukan ijtihad ketatanegaraan dengan memberikan bekal semangat keagamaan kepada polisi.

“Bagi polisi muslim, spirit kajian kitab kuning menarik untuk dicermati. Paling tidak kitab kuning bisa membantu pemahaman untuk tidak berpikir radikal dalam memahami agama,” ujar dia.

Kapolda Bangka Belitung Inspektur Jenderal Anang Syarif Hidayat mengatakan persoalan inteloransi sudah menjadi masalah seluruh bangsa di dunia. Radikalisme, kata dia, adalah akar dari terorisme dimana belum satu negara pun yang secara mandiri dapat mengatasi masalah terorisme.

“Namun intoleransi, radikalisme dan aksi terorisme tidak boleh berkembang karena akan mengganggu stabilitas keamanan dan pembangunan. Seluruh elemen masyarakat harus mendukung upaya dan tindakan pemerintah dalam mencegah berkembangnya paham ini,” ujar dia.

Ditambahkan Anang, Bangka Belitung masih dalam keadaan aman dan kondusif. Untuk itu dia meminta agar keberagaman, situasi aman dan damai dapat dirawat dan dijaga agar paham intoleransi radikalisme dan terorisme tidak berkembang.

Danrem 045 Garuda Jaya Brigjen TNI Matheus Jangkung Widyanto mengatakan paham intoleransi, radikalisme dan terorisme banyak berkembang di media sosial sehingga mempermudah masyarakat terpengaruh.

“Untuk itu kita perlu menjaga negara ini dengan dukungan dari masyarakat dengan memperkuat nilai-nilai Pancasila. NKRI ini terbentuk dari sejarah Islam dengan nilai toleransinya yang tinggi antar umat beragama,” ujar dia.

Dijelaskan Jangkung, operasi militer TNI akan menjaga keutuhan NKRI dari ancaman bahaya dari luar. Untuk itu dia meminta semua pihak dapat berperan dalam memperjuangkan pola pikir masyarakat untuk tidak takut kepada negara lain dan tidak mudah terprovokasi dengan paham radikalisme, intoleransi dan terorisme.

Penulis : Servio M | Editor: Donny Fahrum

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button