LENSA POLITIKNEWS

Peta Politik Bangka Tengah Bergeser Pasca Meninggalnya Ibnu Saleh

Lensabangkabelitung.com, Bangka Tengah – Dosen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Bangka Belitung (UBB) Ibrahim mengatakan peta politik pasca berpulangnya bupati petahana Ibnu Saleh menarik untuk disimak karena akan terkait dengan pergeseran kekuatan politik yang memungkinkan membuat pertarungan mungkin berjalan tidak imbang.

“Duel pasangan ini sebelumnya sudah diprediksi akan berjalan hangat dan saya kira terlokalisirnya kekuatan menjadi dua kelompok menandakan bahwa keduanya memang sedang ingin berduel habis-habisan,” ujar Ibrahim kepada Lensabangkabelitung.com, Senin, 5 Oktober 2020.

Menurut Ibrahim, meninggalnya calon bupati petahana seakan menjadi antiklimaks dari proses kontestasi yang sudah dibayangkan sempurna. Kalau dicermati, kata dia, pasangan Didit-Korari akan menunggu siapa yang akan diajukan oleh pasangan BERIMAN sebagai pengganti.

“Posisi saat ini saya sebut sudah berjalan timpang karena pasangan satunya sementara stagnan, sementara pasangan satunya semakin prima jelang puncak masa kampanye,” ujar dia.

Koalisi gemuk BERIMAN, kata Ibrahim, memiliki waktu tujuh hari untuk mengusulkan pengganti dan dinilai menjadi titik lemah. Parpol memang tidak bisa mengubah atau menarik dukungan, namun kendala administrasi kelak menjadi salah satu tantangan.

“Jika sebelum ini koordinasi koalisi gemuk parpol pengusung pasangan ini dipegang oleh calon sendiri, saat ini harus ada figur baru yang memegang simpul koordinasi diantara parpol pendukung. Jika tidak cepat, resikonya adalah soliditas akan terganggu. Sesuai dengan regulasi, jika parpol pengusung tidak segera mengusulkan, maka mereka dikategorikan tidak bisa mengusung lagi,” ujar dia.

Ibrahim sendiri berandai-andai bahwa egalitarianisme parpol pendukung sedang diuji. Bukan hanya soal komitmen dengan almarhum sebagai pengikat, namun ada sensitivitas atas amanat yang telah dirajut sehingga dituntut soliditas dan kekompakkan tanpa syarat untuk menyepakati siapa calon penggantinya.

“Herry Erfian punya kans untuk digeser menjadi Calon Bupati dan PKPU memberi peluang untuk itu. Sementara wakilnya bisa dicari diantara para pimpinan politik daerah yang mumpuni, bisa juga tokoh non parpol namun memiliki daya pikat yang kuat,” ujar dia.

Sekalipun pasangan BERIMAN mampu menggalang soliditas untuk menyatukan persepsi atas calon pengganti, menurut Ibrahim, peta politik telah bergeser cukup jauh ke arah yang menguntungkan bagi pasangan BERDIKARI. Tapi sekali lagi, bilik suara adalah sebuah misteri yang belum bisa dipecahkan dengan rumus-rumus analitik sederhana.

“Saya melihat bahwa secara fisik mungkin keberadaan Pak Ibnu menjadi sangat penting. Namun ikatan moral para pendukungnya saya kira tidak bisa dipandang remeh. Tapi lagi-lagi, semua hal itu akan sangat tergantung pada bagaimana parpol pengusung membangun kekuatan politik dalam waktu singkat,” ujar dia.

Ibrahim menambahkan usia sesungguhnya adalah sebuah rahasia dan setiap orang tak mampu menebak pada cara bagaimana bisa menang dan kalah dalam sebuah kontestasi, begitu juga soal waktu tutup usia. Kepergian Ibnu Saleh, kata dia, sesungguhnya juga memberikan peringatan penting bahwa caci-maki satu sama lain dalam kontestasi Pilkada hendaknya tidak menjadi pola karena semua bisa ditinggalkan begitu saja.

“Saya membayangkan bahwa segala bentuk degradasi atas posisi almarhum selama kontestasi beberapa bulan terakhir ini toh akhirnya runtuh begitu saja ketika Sang Khalik berkehendak. Maka saling mengasihi dalam proses politik saya kira harus menjadi alarm bagi kita. Bahwa kompetisi iya, namun kodrat kita sebagai makhluk Tuhan hendaknya mengajari kita untuk tetap saling menghargai,” ujar dia.

Penulis: Servio M | Editor: Donny Fahrum

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button