NEWS

TINS Meyakini Semester Kedua 2020 Harga Timah Terus Membaik

Lensabangkabelitung.com, Jakarta – Adanya perbaikan harga komoditas di pasar dunia pada semester kedua tahun ini menjadi harapan besar bagi PT Timah Tbk (TINS) bisa membalikkan kinerja keuangan lebih baik lagi dibandingkan pada semester pertama 2020.

Direktur Keuangan PT Timah Tbk (TINS), Wibisono meyakini pada paruh kedua tahun ini harga logam timah akan membaik dan membantu pemulihan pasar timah dunia.

”Kami optimistis bahwa harga logam timah akan pulih di semester II 2020. Ini akan berdampak positif terhadap kinerja perusahaan,” ujarnya saat public expose live 2020 secara virtual di Jakarta, Jumat, 30 Agustus 2020, akhir pekan lalu.

Harga logam timah di London Metal Exchange (LME) berangsur membaik dengan rata-rata harga pada Juni 2020 sebesar 17,12 dolar AS atau naik 9 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sinyal positif tersebut menumbuhkan optimisme akan pulihnya pasar timah dunia setelah terpukul beberapa waktu akibat Covid-19.

Sebagai produsen terbesar timah dunia, perseroan menjadi salah satu merek yang paling digemari di industri timah dengan merek dagang yang sudah terdaftar di London Metal Exchange. Menurut Wibisono, hal tersebut menjadi keunggulan kompetitif bagi TINS untuk mewujudkan strategi penetrasi ke pasar-pasar baru. Pada semester pertama 2020, PT Timah mencatat produksi bijih timah sebesar 24.990 ton atau turun 47,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya 47.423 ton. Adapun produksi logam turun 26,2% menjadi 27.833 ton, serta penjualan logam turun 0,3% menjadi 31.508 ton.

Bila dilihat dari perspektif kuartal II dibandingkan kuartal I, perbaikan yang nampak diantaranya adalah pada Gross Profit Margin (GPM) yang naik menjadi lebih kurang 3,1 persen dari sebelumnya minus 4 persen. Pada kuartal II tercatat laba kotor sebesar Rp249,94 miliar atau naik signifikan dari kuartal I sebesar minus Rp173,6 miliar. Di samping itu, Net Profit Margin (NPM) naik menjadi minus 4,9 persen dari sebelumnya minus 9,4 persen.

Secara operasional PT Timah terus melakukan rencana aksi berupa efisiensi di setiap lini bisnis, optimalisasi alat produksi, serta menjaga kinerja produksi dan penjualan agar arus kas tetap optimal. Di samping itu, biaya bahan baku yang berkontribusi besar terhadap struktur biaya disiasati melalui third party renegotiation untuk kompensasi yang lebih ekonomis.

PT Timah memanfaatkan pula backlog atau persediaan timah setengah jadi untuk dilebur kembali menjadi logam timah dengan spesifikasi standar LME, sehingga memberikan kontribusi positif terhadap penerimaan perusahaan.

”Efektivitas manajemen biaya yang saat ini dilakukan akan mulai terlihat pada laporan finansial kuartal-kuartal berikutnya,” kata Wibisono.

Dengan demikian, lanjut Wibisono, potensi perbaikan performa PT Timah masih terbuka lebar, ditambah dengan pulihnya harga logam timah di London Metal Exchange (LME) akan semakin menguatkan optimisme dan harapan baik untuk PT Timah pada semester II 2020.

Sumber: Neraca | Donny Fahrum

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button