NEWS

Posisi Kas Masih Kuat, PT Timah Sudah Siap Bayar Utang Rp 600 Miliar

Lensabangkabelitung.com, Pangkalpinang – PT Timah Tbk (TINS) sudah menyiapkan skema pembayaran utang obligasi dan sukuk dengan nilai Rp 600 miliar. Surat utang tersebut jatuh tempo pada September 2020.

Melansir dari KONTAN, Direktur Keuangan TINS Wibisono meyakinkan pihaknya mampu membayar utang obligasi dan sukuk yang masuk dalam kewajiban jangka pendek saat jatuh tempo nanti.

Kata dia, kas internal saat TINS saat ini cukup kuat karena ada beberapa hal yang diubah. Misalnya, TINS memangkas anggaran belanja modal dari Rp 2,5 triliun menjadi Rp 1,5 triliun tahun ini. Sementara untuk anggaran operasional dipotong 30%.

Belum lagi, TINS bisa menyimpan dana anggaran buyback yang tidak direalisasikan, karena saat ini harga saham TINS sudah naik dibandingkan saat Maret 2020. Saat itu TINS menganggarkan dana Rp 100 miliar untuk melakukan buyback.

Wibisono menyatakan, pembatalan buyback ini berkaitan dengan penyebaran virus Covid-19, di mana TINS lebih berfokus pada kondisi arus kas (cash flow) untuk bisa bertahan dan mengembangkan bisnisnya.

“Sampai pada batas akhir periode pelaksanaan buyback saham yang jatuh pada 16 Juni 2020, TINS memutuskan untuk tidak melaksanakan pembelian kembali saham perseroan,“ kata Wibisono, yang dikutip Lensabangkabelitung.com dari KONTAN, Kamis, 18 Junin2020.

Sekretaris Perusahaan Timah Abdullah Umar Baswedan menambahkan, pihaknya optimistis kinerja membaik lantaran harga timah merangkak naik menjadi sekitar US$ 16.900 per ton. Diharapkan harga timah bisa mencapai US$ 17.000 per ton-USS 18.000 per ton.

Asal tahu saja, selama 2019 lalu, harga rerata logam timah dunia di London Metal Exchange (LME) terkoreksi menjadi US 18.569 per metrik ton. “Kalau harga jual rata-rata di US$ 17.000 per ton, kinerja bisa baik, Mei sudah bagus, Juni kalau harga bertahan US$ 17.000 bisa makin bagus,” ungkap Abdullah.

Kinerja TINS di 2019 lalu memang cenderung lesu. Meski mencetak kenaikan pendapatan sebanyak 75,45% (yoy) menjadi Rp 19,3 triliun, emiten pelat merah ini harus mengalami kerugian bersih mencapai Rp 611,28 miliar.

Wibisono mengatakan pihaknya tahun ini akan menjual sekitar 55.000 ton timah untuk menjaga harga di pasar dunia. “Kalau kami jual terlalu banyakjuga bisa membanjiri pasar dan harga nanti turun,” ungkap dia.

Wibisono menilai, harga timah memang seiama ini masih dikontrol oleh LME. Padahal produksi timah ada di lndonesia, China dan Afrika. “Kami berpikir akan membuat patokan harga sendiri, sebab market share TINS itu 20% di dunia untuk perdagangan timah,” imbuh dia.

Saat ini pergerakan harga saham TINS sudah mulai menunjukkan perbaikan. Dalam sepekan perdagangan, saham TINS menguat 9,32% dan ditutup di Rp 645. Saham TINS menguat 37,23% dalam sebuian dan 7,50% dalam periode tiga bulan perdagangan.

Sumber: KONTAN

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button