ARTIKELOPINI

Izinkan Belitung Bahagia dengan ‘Jodoh’ Kekiniannya

Lensabangkabelitung.com, Pangkalpinang – Tahu enggak sih, ditinggal pas lagi sayang-sayangnya itu perih. Sakit, meski tak berdarah.

Persis kayak dulu Belitung. Saat lagi butuh-butuhnya, tapi eh.. ditinggal PT Timah.

Alasannya, karena cadangan habis. Cadangan timah yang ada pun, kalau mau diolah tak sesuai dengan biaya yang dikeluarkan.

Itu kisah lama. Sekitar tahun 1992. Saat perusahaan tambang milik negara itu gencar restrukturisasi.

Untuk alasan efisiensi, saat itu karyawan yang dirasa tak lagi produktif, diminta pensiun. Lebih dini. Diminta ‘ngambil pending’, demikian istilahnya. Semua pesangon dibayar seluruhnya.

Statusnya pun jadi mantan karyawan. Bukan pensiunan, karena tak ada lagi jatah uang bulanan. Semua dibayarkan di depan. Selesai. Putus hubungan.

Demikian pula untuk unit-unit yg tidak produktif. Ditutup. Alhasil, sekolah dasar maupun menengah yang ada nama Stania-nya, diserahkan ke pemerintah. Untuk minta dinegerikan.

Bagi karyawan yang dinilai masih produktif, terpaksa pindah, ke pulau Bangka. Beserta seluruh anggota keluarga. Semacam bedol desa.

Maka, tetangga yang bukan karyawan Timah, kehilangan tetangganya. Anak-anak kehilangan kawan sebaya. Tinggal kenangan di tempat asal.

Diterpa semacam disrupsi yang demikian dahsyat kala itu, tentu membuat Belitung sedikit goyah. Perputaran uang jadi hanya mengandalkan dari para pegawai negeri sipil, nelayan, petani, sesama pedagang, dan sedikit pegawai swasta. Karyawan timah yang tersisa, jumlahnya tak seberapa.

Dengan kekuatan yang ada, Belitung dipaksa putar otak untuk move on. Atau, bolehlah disebut shifting, walau belum masuk era revolusi 4.0, kala itu. Berat, tak mudah.

….
Tiktok, tiktok.
Waktu pun terus berlalu. Hingga Belitung akhirnya berjumpa ‘jodoh’ baru. Pariwisata. Sekali lagi, pariwisata. Dengan pantai-pantainya yang memanjakan mata. Dengan batu granitnya yang indah. Dengan Menara Lengkuas-nya yang mempesona. Menarik minat banyak orang untuk bertandang ke sana.

Adalah berkat novel Laskar Pelangi, karya jenius Andrea Hirata, menjadi titik tolak kembalinya rasa percaya diri Belitung. Apalagi, Belitung kian menjadi populer setelah novel fenomenal tersebut difilmkan. Ini sebuah era baru.

Nah, di saat lagi bangkit dan gencarnya bergelut dengan pariwisata, godaan pun tiba. Seolah jarum jam dipaksa berputar balik. Setelah sekian lama berlalu.

PT Timah yang masih mengantongi Izin Usaha Penambangan, meminta untuk kembali menambang. Di perairan Belitung. Alasannya, masih banyak cadangan timah. Wah…

Bisa saja itu sah dan legal. Tapi, ini tentu tak mudah. Karena antara penambangan dan pariwisata, sulit mencari titik irisan yang sama. Kecuali, kalau sepakat untuk menutup rasa malu, dengan berselingkuh.

So.., kepada PT Timah tercinta, sudilah kiranya melepas, agar biarkan Belitung menikmati rasa bahagia kekiniannya. Dengan jodoh baru mereka….: pariwisata.

Artikel : DONNY FAHRUM

Lensa Bangka Belitung

Portal Berita Terkini Bangka Belitung

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button