NEWS

Warga Kenanga Desak Penutupan Pabrik Milik PT BAA

Lensabangkabelitung.com, Sungailiat – Ratusan warga Kelurahan Kenanga, Kecamatan Sungailiat, Bangka kembali menggelar musyawarah membahas limbah pabrik tapioka yang menimbulkan bau di wilayah itu.

Warga juga mendesak penutupan pabrik milik PT Bangka Asindo Agri (BAA) tersebut.

Musyawarah yang digelar Jumat malam (9/3/2018) di Masjid Al Mu’minun, diinisiasi oleh pihak Kelurahan Kenanga dengan mengundang perwakilan warga, pihak perusahaan dan pihak terkait lainnya.

Salah seorang warga Kenanga, Yuniot Man Safendi mendesak agar pabrik tersebut ditutup.

Selain karena dinilai melangggar perda tentang kawasan industri, ia menyebutkan telah terjadi pencemaran udara di wilayah itu dengan adanya bau tak sedap yang diduga berasal dari limbah pabrik.

Sekretaris Camat (Sekcam) Sungailiat, Al Imran menyesalkan langkah perusahan yang memberangkatkan beberapa warga setempat melihat pabrik tapioka Lampung, tanpa berkoordinasi dengan pihak kecamatan.  

Tokoh muda Kelurahan Kenanga, Subhan, mengingatkan kembali agar permasalahan ini harus ada penyelesaiannya. Karena, menurutnya, warga tidak bisa lagi bertahan menghirup udara yang tercemar.

“Jangan terus digantung, tanpa ada akhir,” tegas Subhan.

Sikap ini didukung Ketua DPD KNPI Bangka, Syarli Nopriansyah yang turut hadir pada musyawarah warga.

Menurutnya, pembangunan sejatinya bertujuan mensejahterakan masyarakat, bukan malah sebaliknya.

Sebab itu ia mendesak agar pabrik segera ditutup. Karena sudah dalam beberapa waktu, bau limbah mulai mengganggu kehidupan masyarakat dan mengakibatkan lingkungan menjadi sangat tidak sehat.

Bahkan, kata Syarli, ada warga yang sakit akibat bau limbah.

Syarli mengatakan, PT BAA harus bisa meyakinkan warga apabila mampu mengatasi limbah pabrik.

“Dalam waktu 3×24 jam, bau limbah harus hilang, jika tidak maka pabrik tapioka ini wajib dihentikan kegiatannya, wajib ditutup,” tegasnya.

Tokoh agama setempat, Ustadz Nurul, menyatakan bahwa sejak munculnya bau limbah hingga saat ini, orang tuanya sudah tiga kali mengalami gangguan pernafasan. Bahkan harus dilarikan ke rumah sakit pada pukul dua dinihari.

“Bahkan sampai dibacakan Surah Yasin, akibat bau limbah ini,” ujarnya.

Sebab itu ia sepakat dan mendukung rencana penutupan operasional pabrik tapioka apabila dalam waktu tiga hari masih menimbulkan bau menyengat.

Ketua Masjid Al Mu’minum, H Suhardan, mengimbau warga untuk bersabar dan berharap ada solusi terbaik atas limbah pabrik yang beroperasi kelurahan tersebut.

Dalam pertemuan, mayoritas warga siap mengumpulkan tanda tangan untuk mendukung penutupan pabrik tapioka ini. 

Namun pihak perusahaan yang hadir mengatakan bahwa mereka masih sangat sanggup untuk mengatasi bau limbah.

“Kalau di Lampung bagus, limbahnya dimanfaatkan untuk makan sapi yang dikelola oleh koperasi,” kata Zamhir, salah seorang warga yang diberangkatkan PT BAA ke Lampung.

Penulis : Vera

Lensa Bangka Belitung

Portal Berita Terkini Bangka Belitung

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button