NEWS

Ngakunya Tidak Marah, Tapi Intonasi Erzaldi ‘Ngegas’, Ditanya Julukan ‘Raje Ngilang’

Lensabangkabelitung.com, Pangkalpinang – Menjawab pertanyaan wartawan, Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Erzaldi Rosman yang awalnya nada bicaranya agak perlahan, tiba-tiba nada bicaranya tak tenang. Intonasinya sedikit ‘ngegas’, menaik, ketika menanggapi julukan ‘Sang Raje Ngilang’ yang disematkan BEM UBB kepadanya.

“Biasa ah. Enggak marah-marah. Mana ada komentarnya saya marah, ada enggak? Enggak ada kan?” ujar Erzaldi dengan intonasi suara meninggi dan sedikit bergetar, Senin, 26 Juli 2021.

Dikatakan Erzaldi, kritikan yang dialamatkan mahasiswa merupakan hal biasa. “Biasa aja. Enggak apa-apa. Memang saya ngilangnya ke mana? Mengkritik biasalah,” ujar dia.

Meski demikian, dia beranggapan cara mahasiswa dalam mengekspresikan kritikan kurang tepat. “Sampaikan saja kepada adik-adik mahasiswa, tolong, sayang, generasi penerus bangsa. Menyampaikan itu dengan etikalah,” ujar dia.

Sebelumnya, julukan “Sang Raje Ngilang” disematkan BEM UBB lewat akun Instagramnya @bemkmubb yang diunggah pada Minggu malam, 18 Juli 2021 lalu.

Menurut Ketua BEM KM UBB Rio Saputra, julukan “Sang Raje Ngilang” diberikan karena orang nomor satu di Bangka Belitung tidak merespon satu pun permintaan audiensi, meski telah melayangkan tiga surat yang dikirimkan pada 28 April, 3 dan 6 Mei 2021.

Dalam pertimbangan BEM UBB, sikap gubernur yang tidak pernah hadir dalam permasalahan yang dinilai dapat memicu konflik di tengah masyarakat.

“Waktu permasalahan di Teluk Kelabat dalam, kami pernah meminta Gubernur untuk menyikapi, namun Gubernur tidak datang ke lapangan langsung.” ucap Rio saat dihubungi Lensabangkabelitung.com Minggu, 18 Juli 2021 lalu.

Permasalahan terbaru yang mahasiswa menilai gubernur merajai sikap menghilang, yakni saat terjadinya konflik antar nelayan dengan Kapal Isap Produksi (KIP) milik PT Citra Bangka Lestari (CBL) yang diduduki para nelayan untuk menuntut tidak ada lagi aktivitas pertambangan mulai dari perairan Matras sampai Pesaren.

“Terakhir kemarin, ketika nelayan Aik Antu menduduki Kapal Isap Produksi (KIP) Citra Bangka Lestari (CBL) ada ultimatum dari nelayan untuk gubernur bisa menemui nelayan, seharusnya gubernur selaku pimpinan tertinggi kita walaupun aturan atau izin dari pusat, meskipun beliau tidak memiliki wewenang, seharusnya beliau bisa menemui para nelayan untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Rio.

Dion Firnanda | Louis | Editor: Donny Fahrum

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button