LENSA EKONOMINEWS

Memilih Influencer yang Tepat untuk Bisnis, Ini Kata Digital Marketer

Lensabangkabelitung.com, Pangkalpinang – Media sosial sekarang sudah menjadi salah satu channel Digital Marketing yang disukai oleh digital marketer di Indonesia. Kondisi media sosial di tahun lalu dengan tahun yang akan datang diprediksi akan sangat berbeda.

Salah satu perusahaan media asal Inggris, We Are Social mengungkapkan pada tahun 2020 ada 61,8 persen penduduk Indonesia sudah aktif menggunakan media sosial atau sebanyak 170 juta orang. Ini merupakan angka yang besar yang bisa digunakan untuk promosi suatu barang.

Rafian Rifansyah seorang Digital Marketer yang berkecimpung selama dua tahun terakhir di sosial media bisnis, memberikan panduan bagaimana memilih influencers yang tepat di sosial media, agar tidak terkecoh dengan followers yang banyak, melainkan ada membawa dampak untuk pelaku bisnis.

Informasi tambahan, secara singkat influencer adalah seseorang yang bisa memberikan pengaruh di masyarakat, dapat diartikan influencer adalah orang mempunyai pengaruh terhadap orang lain untuk mempengaruhi orang dalam proses menyukai suatu barang, yang tadinya mau beli, dipengaruhi buat gak jadi, atau yang tadinya mau beli barang X, bisa dipengaruhi akhirnya beli barang Y.

Menurut Rafian, influencer sangat berpengaruh terhadap kemajuan suatu bisnis, salah satu cara melihat influencer itu berpengaruh atau tidaknya bisa dilihat dari Engagement Rate dan Insight dari akun tersebut. Engagement Rate adalah metrik dasar yang digunakan dalam pemasaran media sosial untuk mengukur kinerja sebuah konten pada platform media sosial, khususnya di Instagram dan Facebook.

“Followers bukan menjadi tolak ukur sebagai seorang influencer, tetapi bagaimana cara dia dapat mempengaruhi para followersnya, bisa dilihat dari Insight akun mereka apakah interaksi dengan audiens banyak atau tidak,” ujar Rafian, Jumat, 4 Juni 2021.

Sebagai Digital Marketer, menurutnya influencer yang berpengaruh yakni influencer yang tidak terlalu memiliki banyak followers tapi memiliki interaksi yang banyak kepada audiensnya atau yang biasa mereka sebut micro influencer.

“Namanya juga influencer, harusnya bisa mempengaruhi followers-nya. Tapi sekarang gak lagi. Followers+nya lebih suka rekomendasi dari temennya sendiri daripada dari influencer besar,” kata dia.

Dilansir dari survei yang dilakukan oleh Omnifluencer, mereka melakukan analisa data dari 100 ribu influencer untuk melihat berapa nilai engagement rate, hasil survei mereka membuktikan micro influencer lebih memiliki interaksi yang banyak dengan para audiensnya.

Dari pengalaman Rafian menjadi seorang Digital Marketer, untuk memilih influencer dengan cara melihat seberapa banyak interaksi antara influencer dan audiensnya karena akan memiliki dampak yang besar.

“Lebih baik nyari 100 orang dengan 1k followers, daripada teken kontrak sama 1 influencer dengan 100k followers,” ucap Rafian.

Penulis: Louis BY | Editor: Donny Fahrum

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button