ARTIKELOPINI

Diskursus Nuklir Sebagai Energi Baru

‘CATATAN KECIL’ Bambang Patijaya, Anggota DPR RI dari Dapil Kepulauan Bangka Belitung

SABTU siang, 10 April 2021, kami bersama Komisi VII DPR RI melakukan Reses Komisi ke Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) di Serpong. Kami ingin melihat  BATAN sebagai lembaga yang diberikan tugas oleh negara untuk melaksanakan riset dan pengembangan nuklir serta pengolahan radio aktif dari dekat langsung ke markasnya.

BATAN didirikan oleh Presiden Soekarno 1967 dan diberdayakan lebih lanjut oleh Bapak BJ Habibie semasa beliau sebagai Menristek di masa Orde Baru.

Saya berpendapat bahwa nuklir sebagai sumber energi baru harus diberikan ruang untuk dikembangkan dalam portofolio sumber energi nasional.

Saya mengkritisi kebijakan energi nasional saat ini yang menyatakan bahwa Nuklir adalah pilihan terakhir dalam bauran penyediaan energi nasional. Saya menganggap Kebijakan Energi Nasional yang menyatakan nuklir sebagai pilihan terakhir sumber energi adalah hasil dari kemenangan loby kubu energi fosil di masa lalu.

Pada saat penyusunan RUU Energi Baru dan Terbarukan yang sekarang sedang di godok di Komisi VII, posisi bagi pengembangan nuklir sebagai sumber energi harus diredefinisi ulang.

Mari kita lihat saat ini bagaimana situasi internasional, Uni Emirat Arab (UEA) di awal April tahun 2021 baru saja mengoperasikan PLTN Barakah sebesar 5.600 megawatt, yang terdiri dari empat reaktor. Hal ini menandakan operasi pertama reaktor nuklir damai di kawasan Arab.

Bagaimana dengan Indonesia? Kita punya sumber yang cukup banyak, menurut BATAN Indonesia memiliki 81.090 ton Uranium, 140.411 thorium yang tersebar di Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi.

Khusus untuk di Bangka Belitung, thorium didapat dari turunan mineral monasite dan elmenit, sebagai bagian dari logam tanah jarang (LTJ) tentu memiliki nilai ekonomis yang tinggi bagi pihak yang memiliki tehnologi untuk mengekstrak mineral ini menjadi thorium.

Kejadian ekspor zircon yang di tunda oleh Dirjen Minerba kemarin, salah satu penyebabnya karena dicurigai zircon yang akan diekspor bercampur dengan mineral LTJ, karena saat dicek memiliki kandungan radioaktif yang tinggi. Dengan adanya sumber thorium di Babel dan selama ini rentan diselundupkan, maka tidak ada lagi alasan untuk tidak memanfaatkan nya untuk kebutuhan kita sendiri.

Problem Distrust
Mundur 7-8 tahun yang lalu, pernah suatu ketika cukup ramai dibahas tentang rencana pendirian PLTN di Bangka. Pro dan kontra cukup hangat menjadi pembahasan saat itu. Saya sendiri melihat ada dua masalah yang paling mendasar dari penolakan masyarakat saat itu, yaitu persoalan edukasi nuklir dan persoalan distrust (ketidakpercayaan) publik.

Pertama, masyarakat terlalu banyak mendapat informasi yang tidak akurat tentang nuklir, terlalu banyak cerita horor yang tidak bertanggungjawab beredar mendeskreditkan potensi nuklir sebagai sumber energi, saya menganggap itu bagian dari agitasi kubu energi fosil dalam pertempuran penyediaan energi. Mundur 10 tahun yang lalu, sekelompok orang yang  punya pengaruh dalam politik energi nasional lebih senang kita impor BBM dan kembangkan PLTU Batubara sebagai sumber energi nasional.  Sehingga masyarakat tidak teredukasi dengan baik tentang nuklir, sementara pada saat bersamaan bangsa bangsa maju menikmati supply listrik dari PLTN, seperti Prancis, Korea Selatan,  Amerika Serikat,  Rusia, Jepang dan negara lainnya.

Kedua, persoalan distrust publik, mundur 10 tahun yang lalu disaat kita defisit listrik secara nasional, masyarakat tidak percaya bahwa Indonesia punya kemampuan untuk mengoperasikan PLTN. Wong untuk operasikan PLTD aja listrik masih byar pret byar pret…
Stigma negatif ini telah menyandera potensi pengembangan nuklir dimata masyarakat, tentu ini tidak fair. Kelemahan PLN sebagai operator dan penyediaan jasa kelistrikan nasional pada saat itu menjadi pemantik ketidak percayaan publik pada kemampuan Indonesia untuk mengembangkan dan mengelolah nuklir sebagai sumber listrik.

Kehadiran Komisi VII di BATAN tadi siang sudah membuka wawasan dan menumbuhkan kepercayaan saya pada kemampuan putra bangsa Indonesia akan teknologi nuklir. Pada kawasan terpadu BATAN seluas 300 hektar lebih ini, kami menyaksikan dan mendapat penjelasan bagaimana kemampuan BATAN dalam hal riset dan pengembangan nuklir.

BATAN mengoperasikan 35MW reaktor nuklir untuk kebutuhan riset, dan reaktor ini adalah yang terbesar di Asia untuk reaktor nuklir riset, karena Korea Selatan terbesar kedua hanya memiliki 25MW reaktor nuklir riset. BATAN juga sudah memproduksi isotop yang dipergunakan dalam dunia medis secara komersial,  dan juga memiliki Instalasi Pengolahan Limbah Radioaktif yang sangat bagus dalam menangani pengolahan limbah radioaktif se Indonesia.

It’s Now or Never!!
Setelah melihat semua instasi yang ada didalam BATAN, timbul keyakinan dan kebanggaan bahwa bangsa Indonesia sudah menguasai tehnologi nuklir, walau masih dalam tatanan riset.

Oleh karena itu, sekaranglah saat nya kita kembangkan nuklir sebagai salah satu sumber energi nasional. Jika bukan sekarang pengembangan nuklir ini,  kita tidak bisa sebagai tuan rumah di rumah sendiri dalam memanfaatkan sumber daya uranium dan thorium dalam negeri. Sementara sumber daya kita terus diselundupkan dan yang menikmati adalah pihak asing.

Tentu ada beberapa syarat yang harus terpenuhi jika kita ingin mengembangkan nuklir sebagai sumber energi nasional:

1. Masyarakat harus diedukasi tentang nuklir.

2. Masyarakat harus mendapat manfaat dari kehadiran PLTN secara langsung maupun tidak langsung.

3. Menjadi trigger pembangunan ekonomi nasional.

4. Teknologi reaktor nuklir yang terbaik dan paling aman harus dibangun untuk menjawab tuntas keraguan masyarakat akan keamanan PLTN.

5. Sinergitas, komitmen dan konsistensi dari semua pemangku kepentingan dalam mendukung pengembangan energi nuklir nasional.

Pro dan kontra pasti akan muncul dari wacana pengembangan energi nuklir, tapi jangan sampai pro dan kontra tersebut akibat perang dagang diantara kubu sesama penyedia sumber energi. Cukup sudah permainan ini, mari buka dulu wawasan dan point of view kita dalam melihat kebijakan energi nasional dan masa depan bangsa Indonesia dalam perpolitikan energi.

Mari kita buka ruang diskusi atas diskursus nuklir sebagai sumber energi nasional. Energi Baru dan Terbarukan adalah sumber energi masa depan Indonesia. Indonesia maju dan modern, Babel Pacak Juara! (*)

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button