BANGKANEWS

Bertemu Insan Pers di Sungailiat, BPJ Bahas dari Hulu Hingga Hilir KEK dan LTJ

Lensabangkabelitung.com, Sungailiat – Jalinan silaturahmi antara anggota DPR RI Bambang Patijaya dengan insan pers sudah lama terpelihara. Ketika sedang reses maupun tugas lainnya di Dapil Bangka Belitung yang mengantarkannya ke Senayan, pemilik nama sapaan BPJ ini, sering menyediakan waktu untuk berbincang dengan awak media.

Kamis, 29 April 2021, contohnya. BPJ secara khusus menyediakan waktu untuk bertemu wartawan. Karena di bulan Ramadan, pertemuan dibarengkan dengan buka puasa bersama. Acara berlangsung di Restoran Kembang Katis, Sungailiat.

Usai menikmati sajian berbuka puasa, pertemuan itu dilanjutkan dengan berbincang santai.

“Kegiatan seperti ini adalah silaturahmi, kebetulan saat ini lagi reses dan pada kesempatan yang baik ini, saya pikir kalau bertemu kawan-kawan wartawan Sungailiat ini sangat menyenangkan,” ujar BPJ dalam sambutannya di hadapan wartawan dari berbagai media massa.

Dalam posisi sebagai anggota Komisi VII DPR-RI, tentu ada beberapa hal menarik yang menjadi bahan penulisan wartawan. BPJ juga mengatakan bahwa wartawan adalah mitra baginya, karena dari wartawan dia mendapat masukan sekaligus kritik serta mitra dalam menyebarluaskan informasi mengenai kebijakan pemerintah maupun partai.

Sambil menikmati beragam menu hidangan makan malam, BPJ melayani pertanyaan para wartawan. Dua bahasan yang malam tadi mengemuka, adalah mengenai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Logam Tanah Jarang (LTJ).

Dikatakan BPJ, untuk masalah KEK itu dikembalikan kepada Kemenko, karena yang menjadi ganjalan KEK itu karena bersamaan dengan situasi pertambangan.

“Jadi barang ini apakah diambangin atau bagaimana, nanti kita lihat situasinya. Tapi bagi saya, kalau memang ada kesempatan kenapa tidak?” ujar BPJ. Dia melanjutkan, “Kita ini betul-betul harus bisa mempersiapkan, satunya semakin menurun (pertambangan -red), yang lain (pariwisata -red) harus semakin naik. Jadi ini dikembalikan saja ke Kemenko”.

Sebagai Anggota DPR-RI dari Dapil Babel, BPJ juga sudah mengusulkan KEK Pantai Timur Sungailiat dan Tanjung Gunung Bangka Tengah.

Adapun tentang LTJ atau Logam Tanah Jarang yang berjalan pararel dengan rencana KEK, BPJ menerangkan bahwa ini dua hal yang berbeda, karena KEK menyangkut pengembangan pariwisata pada kawasan tertentu, sementara hilirisasi pemanfaatan LTJ adalah mineral yang didapat ketika menambang timah.

“Kalau kita mundur beberapa waktu yang lalu, saya bersama Dirjen Minerba sempat menghentikan rencana ekspor zircon bersama Polda Babel juga, karena diduga yang diekspor itu tidak mengandung zircon sebagaimana yang dipersyaratkan,” jelas BPJ.

Apalagi, lanjut dia, berdasarkan hasil sampling yang diambil secara random pada saat itu memang menunjukkan tingkat radiasi tinggi.

Dikatakannya, meskipun hasil sampling sudah keluar, itu biarlah menjadi ranah Dirjen ESDM. Dan, ada beberapa hal yang akan diklarifikasi lebih lanjut ke PT CAL selaku eksportir.

“Kalau saya yang mengatakan apa yang mejadi hasil lab-nya, saya akan melampaui, jadi biarlah nanti Dirjen Minerba yang berbicara, biar lebih seru kan?” imbuh BPJ yang kemudian disambut gelak tawa para wartawan malam itu.

Melanjutkan pembahasan hilirisasi, BPJ mengatakan bahwa nilai cadangan harus jelas berdasarkan data yang akurat berdasarkan hasil eksplorasi dan bukan berdasarkan asumsi belaka kemudian harus dipertanggungjawabkan secara akademis dan terukur. Apakah ini akan bernilai ekonomis atau tidak.

Kemudian, menyangkut masalah regulasi, BPJ menerangkan bahwa kesemuanya harus tuntas. Sementara dari tiga mineral (zircon, monazite, elminite), baru zircon yang sudah ada regulasi, mulai dari tata cara ekspor, kadar dan lain-lain. Tapi, itupun belum tuntas. Dia juga mengkritisi rencana Kementerian ESDM melalui Ditjen Minerba yang agak berbau liberal tentang pengelolaan mineral monazite yang faktanya mengandung 30 persen thorium itu.

“Kebijakannya memang betul, bahwa mineral monazite ini tidak diperdagangkan untuk saat ini. Monazite ini mau dianggap sebagai mineral pembawa LTJ, bukan mineral pembawa radio aktif, ini dua hal yang berbeda,” ujar BPJ.

“Mineral pembawa radio aktif itu thorium dan uranium, jadi monazite ini mengandung mineral LTJ, yang di dalamnya adalah thorium, jadi dengan demikian, keinginan Kementerian ESDM bahwa monazite ini dianggap mineral LTJ saja, sehingga boleh diperdagangkan, nah ini kan liberal,” tambah dia lebih lanjut.

Kalau monazite mau diperdagangkan, menurut BPJ, harus tuntas dulu regulasinya. “Jangan nanti orang sudah bekerja, ternyata di tengah-tengah ada yang protes, eh radio aktif ini? uranium ini? thorium ini? Bagaimana pengaturannya?” tegas BPJ.

Menyinggung soal pengelolaan, BPJ menerangkan bahwa mengacu kepada UU No 3 Tahun 2020 tentang Minerba, bahwa seluruh perizinan itu ditarik ke pusat. Dia pun bercerita, ketika bersama Dirjen Minerba mengunjungi salah satu pengepul, ditemukan teknologi konvensional dalam pemisahan minerba melalui teknik meja goyang, dengan konsep home industri. BPJ menginginkan Kementerian ESDM memikirkan bagaimana caranya ini bisa menjadi legal.

“Yang ingin saya sampaikan kepada Dirjen, saya bukan minta Ditjen Minerba menertibkan, saya minta ESDM memberikan saran atau cara bagaimana ini bisa legal. (Apalagi) saat ini ekonomi sedang susah,” ujar dia.

Dikatakannya, bahwa home industri hilirasi mineral ini harus dipikirkan legalitasnya, diharapkan ke depan home industri ini bisa bekerja sama dengan perusahaan yang memiliki izin ekspor atau dilakukan pemanfaatan lebih lanjut. Lebih baik diberi izin legalitas dan itu menjadi tugas Kementerian ESDM melalui Ditjen Minerba. BPJ juga mengharapkan secepatnya ada pendelegasian dari pusat ke daerah mengenai pemanfaatan hilirisasi LTJ ini.

Dalam pemanfaatan LTJ itu, BPJ menerangkan harus memenuhi tiga hal, yakni rakyat mendapat penghidupan yang layak, yang kedua negara jangan sampai dirugikan, dan yang ketiga lingkungan terjaga. “Dan poin yang terakhir adalah hal tersulit namun harus dicapai supaya tercipta rasa adil bagi semua,” imbuh dia.

Penulis: Abdul Roni | Editor: Donny Fahrum

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button