LENSA EKONOMINEWS

Dinas Pertanian Babel Bakal Adopsi Sistem Plasma Kelapa Sawit, Ini Sebabnya

Lensabangkabelitung.com, Pangkalpinang – Harga lada di Bangka Belitung dalam pekan terakhir diklaim naik dari Rp 50 ribu menuju Rp 70 ribu. Namun kondisi tersebut bukan jaminan bahwa produktivitas petani untuk membudidaya lada bertambah.

Faktor menurunnya produksi lada di Bangka Belitung, sebetulnya tidak hanya disebabkan oleh murahnya harga lada, tetapi resiko tinggi yang selalu diterima oleh para petani tiap tahunnya dan tidak ada sistem jaminan yang baik antara pemerintah dengan petani.

“Kita sebenarnya ingin mengurangi resiko yang selalu diterima oleh petani, saat ini kalau ditanyakan, mengapai petani malas bertani karena selain harga murah, jaminan pendapatan juga tidak jelas, ditambah lagi resiko yang sangat tinggi, katakan menanamnya seribu pohon yang mati lima ratus pohon, setengahnya dihajar hama, itu kondisinya,” jelas Sekretaris Dinas Pertanian Bangka Belitung, Erwin Krinawinata kepada Lensabangkabelitung.com baru-baru ini.

Ia menyebutkan agar jumlah produksi lada tidak menurun, yang pada 2020 tercatat masih 35ribu ton pertahun berdasarkan angka statistik. Untuk itu, pihaknya mencoba mengadopsi sistem plasma kelapa sawit pada pertanian lada atau pun pola pengembangan kawasan berbasis koperasi.

“Jadi pola koperasi berarti bagaimana kemudian petani ini kan digandeng oleh off taker, agar kemudian biaya produksi kemudian resiko yang selalu diterima petani ini kan tidak semua diterima oleh petani, jika ada namanya off taker atau korperasi bisa membantu beban mereka,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan sistem yang dimaksud seperti yang telah diberlakukan produksi kelapa sawit dimana tiap kredit petani dari bank masuk ke komoditi sawit melalui para petani sawit lebih mudah.

“Karena memang mereka lebih reliable, jadi lada ini kan misalkan pertani ditanya ke bank, bank lebih milih mengucurkan dana itu ke komoditi sawit daripada lada, karena komoditi lada resiko kematiannya lebih tinggi, kalau kelapa sawit terjamin, nah sistem ini akan kita adopsi,” bebernya.

Hal tersebut, semat –mata dicanangkan oleh pihaknya demi menjaga animo petani untuk tetap menanam lada. Tiap tahunnya, pihaknya menrgetkan 40 ribu ton pertahun, namun selalu tidak tercapai terkendala harga lada murah dan resiko tinggi, sehingga pada 2021, tahun sebelum tercatat hanya mampu produksi 34 ribu ton saja di 2020.

Penulis: Mohammad Rahmadhani | Editor: Donny Fahrum

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button