LENSA EKONOMINEWS

Anjlok Hingga 42,09 persen, Recovery Pajak Pertambangan Timah Masih Belum Bisa Dilakukan

Lensabangkabelitung.com, Pangkalpinang – Pengaruh pandemi Covid-19 benar-benar memukul sektor pertambangan timah dan penggalian di Bangka Belitung. Upaya memungut pendapatan negara dari pajak pertambangan tidak bisa maksimal dilakukan.

Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pangkalpinang Muhammad Arifin mengatakan perolehan pajak pertambangan di Bangka Belitung sektor timah akibat pandemi anjlok hingga 42,09 persen.

“Pada 2019 kita menerima pajak pertambangan sebesar Rp 1,4 triliun. Kemudian pada 2020 hanya sebesar Rp 609 miliar. Ada penurunan sebesar 42 persen dibandingkan tahun 2019,” ujar Arifin saat kegiatan press release evaluasi kinerja pelaksanaan QPBN Triwulan IV di Kantor Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Bangka Belitung, Selasa, 19 Januari 2021.

Kondisi itu, kata Arifin, cukup memukul penerimaan perolehan pajak karena porsi pajak dari pertambangan timah di Bangka Belitung mencapai 28,75 persen dari total sektor penerimaan yang diterima.

“Itu sangat memukul sekali. Penyebabnya adalah ada dua. Pertama karena permintaan global timah turun membuat harga dan profit perusahaan juga turun. Penyebab kedua turunnya produksi timah. Padahal penerimaan pajak pertambangan menjadi primadona di 2019,” ujar dia.

Terkait faktor beberapa perusahaan tambang ada yang mendapat atensi dari Bareskrim Mabes Polri, Arifin mengaku pihaknya belum menerima informasi tersebut.

“Kami belum menemukan indikasi kesana. Karena untuk membuktikan kami perlu lakukan pemeriksaan dan penyidikan. Sepanjang 2019 sampai 2020 belum ada perusahaan pertambangan yang masuk dalam proses penyidikan. Tapi faktor yang paling dalam adalah permintaan dunia yang turun dan juga produksi,” ujar dia.

Arifin menambahkan penurunan pajak pertambangan tersebut sejalan dengan tren nasional, terutama saat terjadi kontraksi sangat dalam pada Bulan Maret, April dan Mei, semua industri turun.

“Kemudian pada Juni dan Juli sudah mulai recovery. Cuma ada dua sektor usaha yang sampai akhir tahun tidak bisa recovery, yaitu sektor pertambangan dan komoditas. Bukan cuma timah saja tapi juga pertambangan lain. Sampai akhir tahun belum bisa di-recovery,” ujar dia.

Penulis: Servio M | Editor: Donny Fahrum

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button