LENSA EKONOMINEWS

Harga Lada Diklaim Naik untuk Menjaga Asa Petani

Lensabangkabelitung.com, Pangkalpinang – Komoditi Lada atau sahang sebutan akrab di tengah–tengah petani lada menyorooti harga lada yang diklaim oleh Pemerintah Provinsi Bangka Belitung mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir.

Harga jual lada di pasaran saat ini di taksiran antara Rp 60 ribu hingga Rp 61 ribu per kilogram. Harga ini naik dari sebelumnya di harga Rp 50ribu per kilogram. Diketahui kenaikan tersebut tidak terlalu signifikan dibandingkan dari tahun kejayaan Muntok Black Pepper yang pernah di harga Rp 150 ribu per kilogram.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Dinas Pertanian Provinsi Bangka Belitung, Erwin Krisnawinata mengklaim kenaikan harga tersebut tidak lepas dari latar belakang target pencapaian dalam hal komitmen Pemrov Babel menaikkan harga jual lada di pasar.

“Jadi memang kenaikan harga lada tersebut, dalam hitungan satu periode ke belakang ini pemerintah Provinsi Babel menggiatkan untuk memperbaiki atau meningkatkan harga komiditi lada, jadi pada prinsipnya pemprov memang fokus di tiga program utama yakni 3 S, sapi, sahang (lada), dan sawah,” ujar Erwin kepada Lensabangkabelitung.com, di Pangkalpinang. Senin, 14 Desember 2020.

Sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Bangka Belitung bahwa pihaknya selalu bertekad ingin mengembalikan kejayaan harga lada seperti diharapkan oleh petani.

“Namun mengembalikan kejayaan harga lada itu harus dilihat dari produksi dan produktivitas petani lada di tingkat petani, memang yang selalu kita harapkan harga lada terus meningkat dari tahun–tahun sebelumnya,” ungkapnya.

Untuk menjaga animo produktivitas petani, kata Erwin, pemprov telah melaksanakan upaya insnentif kepada petani lada berupa bantuan bibit lada, sarana produksi, selain itu dalam pengupayaannya pihaknya menata kembali lembaga begitu juga dengan mensinergikan para stakeholder sebab diketahui aktor lada itu tidak hanya tingkat petani tetapi juga aktor di luar itu.

“Karena untuk lada ini baik hulu hingga hilir tidak hanya melibatkan Dinas Pertanian saja, tetapi juga pihak lain pun ikut terlibat terutama memperbaiki tata niaga lada, bagaimana dengan hubungan eksportir karena kualitas di tingkat petani menentukan, harga yang sedang naik itu bagian dari reward, pada prinsipnya kita ingin menjaga produktivitas di tingkat petani,” imbuhnya.

Penulis: Mohammad Rahmadhani | Editor: Donny Fahrum

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button