NEWSPANGKALPINANG

Dinas Koperasi dan UMKM Beberkan Sulitnya UMKM Ekspor, Molen Berambisi Bangun Pelabuhan

Lensabangkabelitung.com, Pangkalpinang – Untuk tembus pasar global, banyak syarat yang harus dilengkapi oleh para Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Pangkalpinang, di antaranya ialah Surat Kelayakan Pengolahan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), selain itu terdapat juga syarat Sertifikat GMP atau sertefikat mutu olahan produksi.

Syarat–syarat di atas, sebagian syarat dipandang cukup sulit untuk dipenuhi oleh pelaku UMKM, sehingga hal tersebut menjadi kendala sekaligus penghambat perkembangan UMKM Pangkalpinang, Bangka Belitung secara umum. Syarat–syarat tersebut merupakan syarat administratif yang tidak terhindarkan jika ingin tembus ekspor ke pasar internasional.

“Kesulitan UMKM kita untuk ekspor ini memang ada beberapa hal yang harus dipenuhi, pertama SKP atau Surat Kelayakan Pengolahan yang diberikan Kementerian Kelautan dan Perikanan, nanti ada namanya GMP (Good Manufacturing Practice) atau sertifikat mutu suatu produk,” kata Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Perdagangan Kota Pangkalpinang, Donal Tampubolon saat ditemui di Kantor Lurah Pasir Padi, baru–baru ini.

Untuk memperoleh GMP, lanjut Donal para pelaku UMKM harus mengikuti pelatihan, hasil produksipun harus sesuai dengan ketentuan–ketentuan ketat sesuai dengan GMP tersebut, sehingga dalam pelaksanaan itu para pelaku UMKM Pangkalpinang tidak lolos persyaratan, banyak di antaranya hanya memperoleh akreditasi C.

“Jadi yang di GMP ini yang masih terhambat, syaratnya cukup ketat karena berhubungan dengan mutu juga, banyak yang tidak lulus, tapi kalau terpenuhi sesuai GMP, maka dikeluarkan sertifikat itu,” jelasnya.

Lebih lanjut, selain kendala teknis di atas, Donal mengatakan terdapat juga kendala teknis memperhambat mekanisme jual hasil produksi UMKM Pangkalpinang yakni banyaknya kepentingan tangan produsen dari luar daerah.

“Kalau kita mau ekspor ke Singapura, kita kirim dulu ke Palembang, transit dulu di Jakarta, dikemas di Jambi kemudian kirim ke Batam, baru diekspor ke Singapura,” keluhnya.

Menanggapi hal di atas, Wali Kota Pangkalpinang, Maulana Aklil atau disapa akrab berambisi membangun pelabuhan besar untuk mengatasi kendala–kendala teknis ekspor selama ini, sehingga ke depan tidak banyak lagi biasa transit namun dipotong melalui mekanisme ekspor langsung.

“Jadi tidak transit lagi, tidak lewat Palembang, tapi langsung ke Singapura sehingga yang dikenal Singapura adalah getas produksi kita,” pungkasnya.

Penulis : Mohammad Rahmadhani

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button