BANGKANEWS

Bangka Masih Zona Merah, KBM Tatap Muka Ditunda

Lensabangkabelitung.com, Sungailiat – Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka di wilayah pemerintah Kabupaten Bangka sudah dipastikan akan ditunda. Walau rencana sebelumnya, KBM tatap muka di sekolah akan dibuka kembali sesuai Surat Keputusan Bersama Mendikbud, Nadiem Makarim bahwa pada 4 Jaunari 2021 mendatang.

Usai rapat terbatas yang dilaksanakan oleh Pemkab Bangka yang dipimpin langsung Wakil Bupati Bangka, Syahbudin, meminta pandangan dan masukan dari OPD terkait yakni Dinas Pendidikan Bangka dan Satgas Covid–19 dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Bangka. Secara umum diputuskan untuk menunda KBM tatap muka di sekolah–sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan Bangka, Rozali Romkad menyetujui hasil rapat bersama itu, mengingat kasus ataupun penyebaran Covid–19 di Kabupaten Bangka masih sangat tinggi dan rentan tertular bagi peserta didik.

Hal di atas dijelaskan oleh Juru Bicara Satgas Covid–19 Kabupaten Bangka, Boy Yandra. Latar belakang penundaan pembukaan kembali KBM tatap muka di sekolah pada 4 Januari 2021 mendatang tidak lepas dari bertambah kasus Covid–19 di Bangka.

Terhitung sejak 22 Desember hingga 28 Desember 2020, baru–baru ini kasus Covid–19 sebanyak 138 orang positif Covid-19 bahkan masih terus bertambah, jika diakumulasikan, terang Boy dihitung dari awal bulan Desember hingga saat ini sebanyak 374 orang masih positif Covid-19 atau 59,1 persen dalam satu bulan saja.

“Kalau kita bandingkan untuk kasus seperti ini penyebarannya sangat signifikan, khawatir jika KBM tatap muka dilanjutkan, maka sangat merugikan, Kabupaten Bangka masuk zona merah,” ungkapnya.

Selain itu, alasan lain sebagai bahan pertimbangan pihaknya ialah tidak disiplinnya orang yang sedang menjalani isolasi mandiri di rumah usai dites swab, menurutnya orang tersebut tidak betah di rumah sehingga melabrak aturan karantina.

“Alasan kedua, pemberlakuan swab di kita Kabupaten Bangka, untuk mengetahui hasil swab seseorang jika diberlakukan test swab, harus menunggu hasil swab selama satu minggu bahkan paling cepat enam hari, sehingga dianggap lambat, jadi orang–orang yang isolasi mandiri ini tidak betah di rumah sehingga pergi ke mana–mana,” keluhnya.

Boy mengakui sejauh ini belum ada penjagaan ketat oleh petugas terhadap orang yang isolasi mandiri di rumah. Selama ini hanya sebatas aturan normatif bahwa sebelum keluarnya hasil swab pertama dan kedua belum keluar, pasien Covid-19 bersangkutan tidak diperbolehkan untuk keluar, namun rentan dilanggar.

Penulis: Mohammad Rahmadhani | Editor: Donny Fahrum

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button