NEWS

Sempat Terkendala Saat Penerbitan SPB, Kapal Pengangkut Timah Sudah Berlayar ke Singapura

Lensabangkabelitung.com, Pangkalpinang – Rencana keberangkatan kapal Tugboat LL Cobra dan tongkang LL 2506 yang membawa timah ekspor milik perusahaan peleburan timah (smelter) di Bangka Belitung ternyata sempat terkendala sistem error saat mengajukan Surat Persetujuan Berlayar (SPB).

Petugas Keselamatan Berlayar, Penjagaan dan Patroli Kantor Kesahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Pangkalbalam Agus Herwanto mengatakan kendala yang dihadapi oleh perusahaan pelayaran itu adalah sistem yang error saat melakukan input data.

“Memang data yang diinput di sistem kita sempat error. Karena saat ini dalam memberikan pelayanan kita sekarang sudah online,” ujar Agus kepada Lensabangkabelitung.com, Selasa, 3 November 2020.

Kendala tersebut, kata Agus, tidak berlangsung lama karena sistem kembali normal dan proses penerbitan SPB bisa langsung diverifikasi.

“Untuk SPB sudah kita keluarkan pukul 11.00 WIB siang tadi. Dokumen sudah ada semua dan kita diperiksa lengkap serta sistem sudah oke jadi kita setujui (SPB),” ujar dia.

Menurut Agus, kapal pengangkut timah ekspor tersebut kini sudah berlayar pada pukul 13.59 WIB, lebih cepat dari jadwal keberangkatan sebelumnya, yakni pukul 15.00 WIB.

“Kapal tersebut sesuai laporan menuju Singapura dengan barang yang diangkut adalah timah. Sudah berlayar tadi,” ujar dia.

Humas Kantor Pengawasan dan Pelayanan (KPP) Bea Cukai Pangkalpinang Suharyanto mengatakan pihaknya juga sudah mengeluarkan Persetujuan Ekspor Barang (PEB) karena verifikasi di sistem Indonesia Single Windows (INSW) sudah sesuai.

“Proses PEB itu dari eksportir mengajukan usulan PEB melalui Laporan Surveyor (LS) ke sistem INSW untuk diverifikasi. Nanti surveyor akan menginput data dokumen apakah sesuai apa tidak dengan yang disampaikan ke kita. Kalau tidak akan di-reject,” ujar dia.

Terkait informasi adanya timah milik perusahaan yang tidak melakukan penambangan dan operasional perusahaan setop, Suharyanto mengaku kewenangan pihaknya tidak sampai kesana.

“Bea Cukai itu pemeriksaan terakhir. Jadi tidak ada hubungannya dengan proses awal seperti RKAB atau dokumen lain. Dasar kita adalah LS itu saja. Walaupun ada informasi ilegal kalau instansi terkait menerbitkan LS, kita tidak bisa menolak,” ujar dia.

Suharyanto menambahkan dalam hal pengawasan, Bea Cukai bisa masuk ke penindakan apabila ada informasi hasil Intelijen bahwa adanya ketidaksesuaian barang yang diekspor.

“Bisa juga jika ada permintaan dari aparat penegak hukum misalkan dari kepolisian atau kejaksaan untuk tidak melayani ekspor perusahaan tertentu itu kita bisa. Kita pelayanan diproses akhir. Kalau ada yang tidak sesuai tapi dokumennya diterbitkan, itu menjadi tanggung jawab instansi yang menerbitkannya,” ujar dia.

Penulis: Servio M | Editor: Donny Fahrum

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button