ARTIKELOPINI

Peran Krusial Perempuan dalam Merawat Keberagaman di Tengah Budaya Patriarki

SUDAH menjadi pengetahuan umum bagi kita bahwa Indonesia merupakan negara yang plural, jika kita kembali menilik sejarah tentang pembentukan bangsa Indonesia, sudah sejak awal abad ke-20, ketika Indonesia masih berupa sebuah cita-cita, tiga serangkai (Eduard Dowes Dekker, dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, Ki Hadjar Dewantara) telah menegakkan cita-cita Republik yang mendalam bahwa Indonesia adalah mereka yang bersedia dan ingin tinggal didalamnya tanpa diskriminasi.

Hal itu berarti siapapun yang bersedia dan ingin tinggal di Indonesia harus mau menerima perbedaan dan keberagaman yang mengiringi pembentukan bangsa ini menjadi Indonesia.

Bagi bangsa Indonesia, multikulturalisme adalah suatu keniscayaan dan keharusan. Keragaman ras, suku bangsa, bahasa, budaya, dan agama merupakan ciri khas serta kelebihan bangsa Indonesia yang membedakan dengan bangsa lain. Kemudian, setelah negara Indonesia resmi terbentuk, keberagaman ini dipersatukan dengan konsep “Bhineka Tunggal Ika” yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua dan juga konsep NKRI yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasar Pancasila dan UUD 1945.

Namun, akhir-akhir ini ada kecendrungan dari sebagian warga bangsa dan kelompok masyarakat untuk mengingkari sifat multikultural yang sudah melekat pada Bangsa Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu. Hal itu menyebabkan bangsa Indonesia kembali dihadapkan pada suatu situasi yang meresahkan, yaitu ancaman disintegrasi bangsa.

Salah satu kasus yang pernah terjadi dan menggegerkan terjadi pada tahun 2016 yaitu persoalan pengusiran warga Ahmadiyah di Bangka, kita mengetahui bahwa warga Ahmadiyah merupakan salah satu kelompok minoritas yang ada di Indonesia, pengusiran warga Ahmadiyah tanpa sebab ini merupakan salah satu bentuk intoleransi yang terjadi.

Kemudian, Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cahyo Pamungkas dalam diskusi Resolusi Konflik di Tingkat Nasional dan daerah, Jumat, 30 Oktober 2020, menilai Indonesia akan menghadapi dua persoalan terbesar dalam 10 tahun kedepan, yaitu intoleransi keagamaan dan konflik separatisme papua.

Tidak dapat dipungkiri bahwa tindakan-tindakan intoleransi inilah yang akan membahayakan kehidupan dan kesatuan bangsa Indonesia. Melihat problem yang sangat krusial seperti yang dijelaskan diatas bahwa harus ada langkah konkret yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya tindakan-tindakan intoleransi yang dapat mengganggu ketentraman kehidupan di Indonesia.

Salah satu langkah konkret yang harus terus massif dilakukan adalah meningkatkan peran perempuan dalam menanamkan nilai-nilai toleransi kepada lingkungan sekitarnya. Pertanyaan yang paling fundamental adalah kenapa peran perempuan yang harus lebih massif untuk ditingkatkan dalam menanamkan nilai-nilai toleransi.

Adapun hal yang paling dasar adalah saat ini kita sedang di tengah budaya patriarki yang dimana perempuan dalam hal ini yang saya maksudkan adalah ibu memiliki peran penting dalam mendidik anak-anaknya, ditengah budaya patriarki perempuan memiliki peran penting di ranah domestik.

Meningkatkan peran perempuan dalam menanamkan nilai-nilai toleransi juga harus dibarengi dengan meningkatkan kualitas perempuan dalam hal pengetahuan tentang keberagaman itu sendiri, adapun yang harus berperan dalam hal ini yaitu pemerintah dan organisasi-organisasi masyarakat.

Halaman:

1 2Next page

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button