BELITUNG TIMURNEWS

Kisah Inspiratif Edi Pincang, dari Kuli Pemecah Batu Hingga Bisa Bangun Masjid di Desa Renggiang

Lensabangkabelitung.com, Belitung Timur – Mempunyai kekurangan fisik tidak selamanya tangan harus di bawah. Stigma negatif yang menyatakan bahwa seseorang yang cacat seringkali hanya bisa menjadi pengemis tidak benar. Hal tersebut dibuktikan oleh Nirwandi atau biasa disapa Edi Pincang.

Sebagai penyandang disabilitas, pria kelahiran 20 November 1976, ini tak sedikit pun berpikir untuk menyerah atas kekurangan fisik yang ada pada dirinya. Jadi sosok inspiratif, dia melawan keterbatasan dan kekurangan hingga bisa sukses dan melaksanakan niatnya membangun Masjid di Desa Renggiang, Belitung Timur.

Lahir dari keluarga yang sangat sederhana, Edi sendiri tak mau dianggap sebagai beban, dirinya mau mandiri. Sejak duduk di Sekolah Dasar dia sudah bekerja mencari penghasilan sendiri untuk membantu kedua orangtua.

“Jadi tukang titik (pemecah -red) batu di gunung, dan waktu SMA jadi pedagang keliling. Jadi sudah jam pulang sekolah aku lah cari sayur untuk didagang keliling,” ujar Edi menceritakan masa kecilnya ke Lensabangkabelitung.com, Kamis, 24 September 2020.

Dia menjelaskan, awal mula keinginannya membangun masjid adalah panggilan hati atas rasa syukurnya kepada Sang Maha Pencipta. “Di balik kekurangan aku, Allah titipkan rezeki yang luar biasa. Dari hasil perkebunan aku, usaha aku semua dari Allah,” terangnya.

Dia melanjutkan, masjid yang bakal dibangun diatas lahan kurang lebih 500 meter persegi tersebut nantinya bakal diberi nama Masjid Nurnia.

Nama Masjid Nurnia, jelas Edi, diambil dari dua nama wanita-wanita hebat yang berjasa dalam hidupnya. Nur dari nama ibu kandungnya sedangkan Nia adalah nama istri tercinta.

“Umak yang dari aku kecil menyayangi dan istri yang menemani dari nol (awal) dak pernah mengeluh tentang fisik maupun materi,” ungkap ayah empat anak ini.

Disinggung mengenai kenapa pembangunan masjid tak menerima bantuan dari pihak lain, Edi langsung memohon maaf. Dia mengatakan tidak bermaksud menolak ataupun sombong, baginya pembangunan masjid ini menjadi tanggung jawab pribadi apa yang diterima dia dan keluarganya sampai saat ini. “Proyek aku dengan Allah pak,” timpalnya.

Edi menargetkan pembangunan masjid ini akan rampung dalam delapan bulan kedepan. “Mudah-mudahan puasa tahun depan sudah bisa digunakan,” harapnya.

Lanjutnya, setelah pembangunan masjid selesai dia akan menghibahkan masjid tersebuy untuk masyarakat sekitar.

Dia pun memberi pesan kepada orang-orang yang memiliki keterbatasan fisik seperti dirinya untuk membuang jauh rasa putus asa dalam hidup. Dia meyakini dari setiap kekurangan pasti mempunyai kelebihan yang jauh lebih besar.

“Yakinlah semua sudah ada rejekinya masing-masing. Yang penting mau berusaha,” katanya.

“Jangan minder, dak usah didengar apa kata orang. Terus berusaha semua didepan mata Allah itu sama,” pungkas Edi Pincang.

Penulis: Rizky Sadewa | Editor: Donny Fahrum

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button