NEWS

Orangtua yang Tidak Setuju Anaknya Sekolah Tatap Muka, Wajib Lakukan Ini

Lensabangkabelitung.com, Pangkalpinang – Pemerintah menyetujui untuk membuka kembali Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka untuk daerah yang masuk zona hijau dan kuning penyebaran Covid-19. Meski banyak persyaratan yang harus dipenuhi pemerintah daerah dan siswa, KBM tatap muka tetap mengedepankan peran orang tua dalam memberi izin.

Kepala Dinas Pendidikan Bangka Belitung Muhammad Soleh mengatakan sekolah sebelum menggelar KBM tatap muka harus melakukan rapat dengan pihak komite dan orangtua agar didapat keputusan yang disetujui bersama.

“Kalau orang tua keberatan anaknya sekolah tatap muka boleh memilih pembelajaran melalui daring. Yang tidak setuju, silahkan membuat surat pernyataan ditujukan sekolah agar anaknya belajar melalui daring. Nanti akan tetap dilayani dan itu tidak masalah,” ujar Soleh kepada Lensabangkabelitung.com, Sabtu, 8 Agustus 2020.

Soleh menuturkan sekolah yang menggelar KBM tatap muka bukan berarti akan masuk sekolah terus menerus. Namun ada beberapa alternatif pola pembelajaran yang saat ini sedang disiapkan masing-masing sekolah.

“Dalam satu ruang hanya 18 orang siswa. Karena keterbatasan lokal, maka akan dilakukan secara bergiliran. Misalkan pada Minggu pertama kelas 10, Minggu kedua kelas 11 dan Minggu ketiga kelas 12. Atau dibagi misalkan 3 hari tatap muka dan 2 hari secara online. Meski tatap muka dilakukan, tetap ada daring di sekolah yang dibuka. Tapi sekolah yang belum dibuka tatap muka tetap daring,” ujar dia.

Menurut Soleh, sekolah yang tatap muka tetap mematuhi protokol kesehatan dimana siswa datang bermasker, tidak berkumpul dan kalau bisa diantar dan dijemput orangtua.

“Pas sampai di sekolah, siswa langsung di thermo gun dan cuci tangan. Ruang kelas sudah disemprot disinfektan. Pada saat keluar juga cuci tangan,” ujar dia.

Selain itu, kata Soleh, pada jam-jam tertentu siswa harus keluar ruangan untuk berjemur pada kegiatan praktek dan olahraga atau ekstrakulikuler. Sedangkan untuk kantin, tidak diizinkan buka di sekolah sehingga siswa yang sekolah sampai sore membawa makanan dari rumah masing-masing dan makanan tidak boleh dibagikan ke kawan-kawan.

“Alat tulis pun tidak boleh pinjam meminjam. Jumlah waktu jam belajar dikurangi yang biasa 45 menit jadi 35 menit. Karena pada Covid-19 ini kurikulum pun disederhanakan, dirampingkan. Yang diutamakan adalah materi kurikulum esensial dan kontekstual serta kurikulum yang dapat dianggap sebagai materi lanjutan,” ujar dia.

Penulis: Servio M | Editor: Donny Fahrum

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button