LENSA KESEHATANNEWS

Rumah Sakit Bhakti Timah Kini Milik Pertamina

Lensabangkabelitung.com, Jakarta – Pemegang saham terbesar di PT Rumah Sakit Bhakti Timah (RSBT) kini tidak lagi dikuasai PT Timah TBK setelah perusahaan pelat merah itu melepas mayoritas saham kepada Pertamina Bina Medika.

Dikutip dari laman resmi Investor Daily, Sekretaris Perusahaan Timah Abdullah Umar mengatakan meski perseroan melepas mayoritas saham PT Rumah Sakit Bakti Timah kepada Pertamina Bina Medika, namun pihaknya belum dapat mengungkapkan detail dana tunai yang masuk ke kas perusahaan.

“Transaksi divestasi diperkirakan selesai pada pertengahan atau akhir Juli 2020. Memang mirip seperti Krakatau Steel, kami dapat cash dan saham minoritas pada holding,” jelas dia.

Sebagai informasi, Timah tercatat menguasai 100% saham RS Bakti Timah, yang mengelola empat rumah sakit di sekitar wilayah kerja sekitar Kepulauan Bangka Belitung seperti, Pangkalpinang, Sungailiat, Muntok, dan Teluk Uma (Karimun).

Menurut Abdullah, Pertamina Bina Medika bisa lebih baik mengelola manajeman rumah sakit BUMN, sehingga kualitas pelayanan kepada masyarakat akan mengalami peningkatan di masa mendatang. Bagi perseroan, aksi ini membuat perseroan lebih efisien dalam mengelola bisnis inti.

Tahun ini, Timah menargetkan penjualan sebesar 55.000 metrik ton, atau turan dari realisasi penjualan 2019 sebesar 67.704 metrik ton. Manajemen berharap ada perbaikan pada tren harga timah.

Selain itu, faktor pembatasan operasi produksi di Amerika Selatan berpotensi membuat Amerika Serikat (AS) mencari timah dari negara lain, seperti Indonesia. Hal ini dinilai akan membuat harga timah mampu menguat. Saat ini, pangsa pasar Timah di pasar global mencapai 20%. Sementara produsen besar seperti Tiongkok cenderung menjual hasil produksi untuk kebutuhan negara itu sendiri.

Timah juga melakukan penyesuaian belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini menjadi Rp 1,5 triliun dari rencana semula Rp 2,5 triliun. Perseroan juga memangkas biaya operasional (operational expenditure/opex) hingga 30% demi menjaga likuiditas arus kas selama pandemi.

Sebelumnya, Direktur Keuangan Timah Wibisono mengatakan, perseroan cenderung fokus mengeluarkan capex hanya untuk bisnis inti. Pihaknya mengaku pandemi membuat perseroan menunda sementara sejumlah proyek, semisal proyek smelter di Nigeria, Afrika. “Kalau ada dana lebih baik kita alokasikan untuk membayar outstanding pinjaman. Dan kami juga tidak mencari utang baru dari penerbitan obligasi,” jelas dia, baru-baru ini.

Salah satu utang perseroan yang jatuh tempo tahun ini adalah utang obligasi dan sukuk senilai Rp 600 miliar. Jumlah ini terdiri atas obligasi penerbitan tahun 2017 seri A sebesar Rp 480 miliar dengan tingkat bunga 8,5%, serta sukuk ijarah penerbitan tahun 2017 seri A senilai Rp 120 miliar. Keduanya akan jatuh tempo 28 September 2020.

Penulis : Servio M | Sumber : Investor Daily

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button
Close
Close