ARTIKELNEWSOPINI

Pulau Belitung Destinasi ‘Recovering’

SEKTOR pariwisata Pulau Belitung dipukul telak semenjak teror Corona Virus Disease (Covid-19). Pandemi ini seakan melumpuhkan geliat penjualan industri pariwisata. Baik itu dari destinasinya, akses atau transportasi serta daya beli pasarnya seperti dipaksakan ‘tidur’ sementara.

Sejalan dengan pandemi Covid-19 ini, Pulau Belitung pun unik. Dua Kabupatennya dicap sebagai pembuka dan penutup wilayah terinfeksi Covid-19 di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Pecah telur Covid-19 itu ditemukan di Kabupaten Belitung pada tanggal 30 Maret 2020 silam. Sedangkan Belitung Timur mengakui orang ber-KTP Bekasi yang bekerja di wilayahnya terinfeksi Covid-19 usai dibenarkan oleh Bupati Belitung pada tanggal 10 Mei 2020. Itu sehari setelah Lensabangkabelitung.com memberitakan terlebih dahulu.

Dimulai sejak perkembangan heboh pandemi setiap negara di dunia, ditambah kasus pecah telur Covid-19 pariwisata Pulau Belitung senyap, tak ditemui lagi wisatawan dan pelancong datang. Sebab, pemerintah daerah juga terapkan Lockdown Terbatas.

Wisata Pantai ditutup, hotel-hotel tak bertamu, jadwal tour di-reschedule dan dibatalkan. Yang diterima pegiat pariwisata hanya seberapa persen dari nilai kontrak perjanjian. Bahkan, ada yang terima zonk.

Krisis itu nampaknya mulai tampak titik terang untuk keluar. Tepat pada hari Jumat, 22 Mei 2020 semua pasien terinfeksi Covid-19 di Pulau Belitung dinyatakan semuanya sembuh. Walau itu tak lama, karena berselang beberapa jam kemudian, ada tiga kasus baru ditemukan, lewat pemeriksaan Tes Cepat Molekuler.

Lensabangkabelitung.com sedikit berdiskusi dengan Chief Strategis PT INWITA, Nurina Widagdo serta mengutip tulisannya PANDEMI, BELITUNG, & PARIWISATA. Bagaimana menggaet kembali wisatawan untuk kembali menikmati Pariwisata di Belitung.

Nilai jual apa yang harus dipasarkan dalam pandemi yang belum usai ini? “Belitung adalah destinasi wisata yang berbentuk pulau dan jumlah penduduk yang tidak banyak dan dibanding destinasi-destinasi lain di Indonesia, Belitung punya keunggulan komparatif untuk dapat lebih mudah dan lebih segera membatasi dan mengatasi infeksi COVlD-19,” kata Nurina mengawali percakapan.

“Belitung dapat mempersepsikan dirinya sebagai destinasi yang aman,” tambahnya.

Lebih lanjut Nurina menambahkan, trend menurun jumlah Pasien Dalam Perawatan (PDP) atau Orang Dalam Perawatan (ODP) bahkan pasien yang meninggal akibat pandemi hingga akhirnya tidak ada lagi.

“Itu adalah nilai jual yang luar biasa,” imbuh Nurina yang mengatakan bahwa Belitung adalah destinasi yang aman.

Terlebih lagi sampai tulisan ini diturunkan, Belitung mencatat tidak ada pasien terinfeksi Covid-19 sampai kasus meninggal dunia. Semuanya sembuh.

Cluster Covid-19 di Kabupaten Belitung dan Kabupaten Belitung Timur, keduanya berasal dari luar. Cluster mendapati inang bakteri tersebut dari Zona merah luar pulau Belitung. Hanya saja keduanya membawa ke Pulau Belitung. Namun di ‘Recovering’ di Pulau Belitung. Jadi tak salah mengatakan Pulau Belitung sebagai destinasi ‘Recovering’.

Kini tinggal tugas membangkitkan kembali pariwisata Negeri Laskar Pelangi ini. “Komunikasi proaktif ke target pasar tentang upaya untuk mengontrol infeksi Covid-19.

“Komunikasi ini perlu secara strategis dan terkoordinasi disampaikan bersama-sama oleh Pemda dan pelaku pariwisata, dalam bahasa dan pendekatan pemasaran pariwisata,” terang investor pengembangan wisata Homestay Rumah Tradisional dan City Tour di Desa Pulau Seliu ini.

Nurina menambahkan, setidaknya Pulau Belitung sudah punya satu step lebih awal dibanding destinasi-destinasi daerah lain. Perlu dikaji bagimana cara membuka kembali pariwisata Belitung. ini adalah tugas semuanya, baik Pemda maupun pelaku wisata.

Penulis: Rizky Sadewa | Editor: Donny Fahrum

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button
Close
Close