NEWS

Mantan Pimcab BPRS Babel Cabang Muntok Jadi Tersangka Korupsi

Lensabangkabelitung.com, Muntok– Mantan Pimpinan PT Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Bangka Belitung (BPRS Babel) Cabang Muntok, Kurniati Hanum dinyatakan sebagai tersangka tindak pidana korupsi oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Bangka Barat setelah dilakukan proses penyelidikan selama kurang lebih dua tahun.

“Harapan dalam waktu dekat kita juga sudah bisa langsung ke penututan, karena ini sudah terlampau lama kalau buat saya, dua tahun kalau hitungan tahunnya,” kata Kajari Babar, Helena Octavianne, Senin, 11 Mei 2020 saat konferensi pers.

Mantan Pimpinan BPRS Babel Cabang Muntok yang memimpin di periode 2014-2018, Kurniati Hanum resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik pidana khusus Kejari Bangka Barat pada hari Senin, 4 Mei 2020.

Secara detil Kapidsus Kejari Bangka Barat, Agung Dhedi mengungkapkan ada dua perbuatan tindak pidana korupsi yang ditemukan pada kasus tersangka Kurniati Hanum ini.

Pertama mengenai program kegiatan fasilitas sarana dan alat bantu penangkap ikan antara Pemerintah Kabupaten Bangka Barat dengan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Bangka Belitung (BPRS Babel) Cabang Muntok tahun 2012 sampai dengan 2015.

“Program Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bangka Barat bekerjasama dengan BPRS, Bank Syariah ini menjadi Bank penyaluran (bantuan,-red), program tujuannya diitujukan kepada nelayan di Bangka Barat, setelah disalurkan, kelompok nelayan tadi kan mengangsur, dan dikelola oleh Bank Syariah, nanti setelah dikelola uang itu kan nanti akan disetorkan ke kas daerah, prakteknya justru BPRS ini yang memanfaatkan uang setoran dari kelompok nelayan tadi (untuk kepentingan pribadi),” jelasnya.

Perbuatan Tindak Pidana Korupsi yang kedua, Agung mengungkapkan ada ditemukan praktek pembiyaan fiktif, dan merupakan objek yang berbeda dari perbuatan tindak pidana korupsi sebelumnya. Terdapat pembiayaan mencapai 46 register pembiyaan atau pencairan pembiayaan yang tidak sesuai dengan ketentuan dari perbankan yang setelah ditelusuri dari 46 pembiyaan yang telah dicairkan tersebut ternyata fiktif.

“Artinya tidak ditemukan nasabah yang mengajukan pembiayaan tersebut, dikatakan fiktif juga, ternyata nasabah yang namanya dicatut dalam pembiyaan tersebut ternyata yang bersangkutan tidak pernah mengajukan pembiayaan, dan juga tidak ditemukan jaminan dalam nama yang dicatut dalam pembiyaan, serta nasabah tidak melakukan akad pembiayaan, dan sampai sekarang status pembiayaan tersebut adalah macet,” jelasnya lagi.

Lalu, dua dari perbuatan tindak pidana korupsi tersangka Kurniati Hanum itu terdapat kerugian keuangan negara sejumlah lima miliar enam ratus delapan puluh empat juta lima puluh lima rupiah.

“Dan dalam kegiatan penyidikan kasus ini sudah mendapatkan alat bukti, selain hasil audit, juga berdasarkan keterangan ahli keuangan negara, OJK dan auditor dari BPKP,” demikian Agung Dhedi.

Penulis: Sepri | Editor: Donny Fahrum

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button