NEWS

BREAKING NEWS: Empat Koli Peralatan PCR Tiba di Bandara Depati Amir

Lensabangkabelitung.com, Pangkalpinang – Diangkut dengan sebuah pesawat jet kecil, peralatan Polymerase Chain Reaction (PCR), Jumat malam, 17 April 2020 tiba di Pangkalpinang. Pesawat mendarat di Bandara Depati Amir, pukul 22.40 WIB.

Pesawat bisa mendarat malam hari di luar jadwal, setelah sebelumnya Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Babel, Erzaldi Rosman meminta pihak bandara untuk tetap membuka bandara menunggu pesawat tiba.

Sayangnya, awak media Lensabangkabelitung.com, tak mendapat kesempatan untuk masuk mengabadikan kedatangan pesawat. Videografer dan fotografer yang kami kirim, tertahan di pintu masuk terminal kargo, Bandara Depati Amir.

Namun, rekan kami masih sempat mengabadikan ketika truk yang membawa peralatan yang sudah ditunggu itu, keluar dari terminal kargo.

“Isinya ada empat koli,” kata salah satu narasumber yang meminta namanya tak disebutkan.

Bagian yang dilingkari, tertera tulisan carton 4 of 4. Menerangkan kalau jumlah keseluruhannya 4 karton/koli.

Selanjutnya, peralatan itu tak langsung dibawa ke Labkesda Pemprov Babel.

“Dibawa dulu ke rumah dinas gubernur,” ujarnya.

PCR adalah alat yang digunakan untuk memeriksa sampel spesimen swab dari pasien yang sangat berguna untuk memastikan apakah si pasien positif Covid-19 atau tidak.

Dengan hadirnya peralatan PCR di Bangka Belitung, dapat membuat provinsi ini bisa memeriksa sampel swab lebih cepat. Tak perlu lagi harus menunggu lama, karena selama ini proses pemeriksaan dilakukan si Balitbangkes Jakarta, dan di Palembang.

Sementara itu, sebelumnya Dokter Spesialis Patologi Klinik RSBT Pangkalpinang dan RSUD Soekarno Bangka Belitung , dr Nafiandi, Sp PK menjelaskan pada pemeriksaan PCR yang diperiksa adalah DNA, sehingga pemeriksaan ini mempunyai spesifisitas cukup tinggi.

“Untuk Covid dikatakan spesifisitas sampai 90-95 %. Jadi kalau hasil PCR-nya positif hampir pasti dikatakan Covid-19,” jelasnya.

Ia menjelaskan, untuk memiliki fasilitas uji PCR diperlukan berbagai fasilitas pendukung yang mumpuni dan tidak murah.

Diantaranya harus memiliki laboratorium yang mempunyai tingkat keamanan minimal Biosafety level 2, harus ada autoclave, mokropipet, biosafety cabinet minimal class 2A.

“Selain itu juga harus memiliki reagen untuk ektraksi DNA, primer, lemari pendingin -20 dan -70 serta ruangan yg bertekanan negatif dan positif. Disamping itu yg sangat penting ada tenaga yg sudah terlatih. Masih banyak lagi peralatan pendukung yang perlu disiapkan untuk safety tenaga medis dan lingkungan,” katanya.

Donny Fahrum

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button