NEWS

Prof Bustami Ingatkan Kepala Daerah di Babel: Jangan Sebut Istilah Panik

Lensabangkabelitung.com, Pangkalpinang – Memvonis dengan pemakaian istilah panik pada masyarakat ketika menghadapi situasi antisipasi terhadap Covid-19, dikritisi dengan keras oleh Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepulauan Bangka Belitung, Prof Dr Bustami Rahman. Penggunaan istilah panik yang sering disebut berulang-ulang oleh kepala daerah, justru akan menambah kecemasan pada masyarakat.

Prof Bustami yang dihadirkan untuk berbicara dalam konferensi pers oleh Gugus Tugas Pencegahan Pengendalian dan Penanganan virus COVID-19 Kepulauan Bangka Belitung mengatakan situasi saat ini di Bangka Belitung belum sampai tingkatan kepanikan. Saat ini levelnya di kecemasan.

“Saya belum melihat kepanikan di masyarakat kita. Kepanikan itu hampir tingkat terakhir menuju disaster (malapetaka -red). Ini belum. Jangan sampai menuju ke situ. Jangan disebut-sebut juga panik-panik itu,” ujarnya, Sabtu, 28 Maret 2020.

Guru Besar Sosiologi Universitas Bangka Belitung ini menjelaskan, istilah panik itu tingkatannya sudah tidak bisa berpikir. “Sudah buntu akal,” tukasnya.

Situasi saat ini, disebutnya ada di tahapan cemas. Untuk itu perlu penanganan agar jangan sampai meningkat menjadi panik. “Cemas itu, tidak bisa dijangan. Kalau ada pencetusnya, ya cemas. Berlaku pada siapapun, kalau ada pencetusnya pasti cemas,” tuturnya.

Dia meminta, pemerintah daerah se-Kepulauan Bangka Belitung untuk bersatu padu, tidak saling menyalahkan. “Harus saling mendukung, kompak. Ketunggalan dalam menentukan sikap. Jangan sampai bupati mengatakan A, walikota mengatakan B, gubernur mengatakan C. Sebagai orangtua, saya harus bilang ini tidak boleh,” ujarnya berpesan.

Lebih lanjut, Prof Bustami mengatakan kalau situasi kecemasan saat ini menghinggapi banyak orang. Namun, diingatkannya, ada yang berada di level sangat cemas. “Orang yang sangat cemas itu, adalah orang yang sangat mengetahui (tentang sesuatu), dan orang yang setengah mengetahui (tentang sesuatu),” tuturnya.

Dia mencontohkan, level sangat cemas itu bahkan ada pada para petugas medis. “Karena mereka sangat tahu tentang penyakit, mereka menjadi sangat cemas. Inilah yang menjadi kecemasan kita,” tuturnya.

Untuk itu, agar situasi kecemasan ini segera mereda, dia meminta pemerintah daerah se-Kepulauan Bangka Belitung agar bersatu padu, tidak saling menyalahkan.

“Harus saling mendukung, kompak. Ketunggalan dalam menentukan sikap. Jangan sampai bupati mengatakan A, walikota mengatakan B, gubernur mengatakan C. Sebagai orangtua, saya harus bilang ini tidak boleh,” ujarnya berpesan.

Donny Fahrum

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button