NEWS

Penyebar Hoax Positif Corona Ditangkap Polres Basel, Pelakunya Oknum Honorer Satpol PP Pangkalpinang

Lensabangkabelitung.com, Toboali – Entah dari mana dapat kabarnya. Namun, yang pasti informasi yang disampaikan oleh akun instagram @dwiputra_adhari yang belakangan diketahui adalah milik oknum honorer Satpol PP Kota Pangkalpinang, berisi berita bohong alias hoax.

Karena berpotensi menimbulkan keresahan, polisi pun bergerak cepat. Pemilik akun tersebut, berhasil diciduk.

Informasi yang dituliskan @dwiputra_adhari pada Rabu, 25 Maret 2020 malam, membuat pemiliknya harus berurusan dengan kepolisian. Informasi bohong yang disampaikan oleh pemilik akun tersebut adalah mengabarkan kalau saat itu ada orang yang positif Corona berada di Toboali, Bangka Selatan.

“Kabar terbaru dari kawan, baru 1 jam yang lalu di Toboali lah ade yang positif corona orang bugis baru pulang dari daerah lain dapet kabar, semue masjid di Toboali lah disiar di masjid, jadi masyarakat Pangkalpinang harus lebih waspada hindari tempat ramai jangan keluar rumah kalau dak penting, pakai masker dan jaga kesehatan,” demikian tulis akun @dwiputra_adhari yang dipostingnya malam itu.

Atas adanya kabar bohong tersebut, Satuan Reskrim Polres Bangka Selatan yang dipimpin Kasat Reskrim AKP Albert Daniel Tampubolon bergerak mencari si pemilik akun. Hasilnya, didapatlah pelaku atas nama Dwi Putraadhari, 25 tahun, yang berhasil diringkus keesokan harinya, Kamis, 26 Maret 2020 di Pangkalpinang.

“Pelaku kita amankan di kedai Thai Tea, Kamis, 28 Maret pukul satu siang di Pangkalpinang. Pelaku sendiri bekerja sebagai honorer Satpol-PP Kota Pangkalpinang dan pelaku mengakui bahwa memang benar akun instagram tersebut adalah miliknya,” kata Albert, dalam keterangannya kepada sejumlah wartawan, Sabtu, 28 Maret 2020.

Dari tangan pelaku, petugas mengamankan barang bukti berupa satu akun Instagram dengan nama Dwiputra Adhari dan satu buah smartphone merek Xiaomi Note 6A berwarna putih.

Atas perbuatan pelaku yang menyebarkan hoax tersebut, dikatakan Albert, dijerat dengan Pasal 14 dan 15 Undang-undang nomor 01 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

“Barang siapa menyiarkan kabar yang tidak pasti atau kabar yang berlebihan atau yang tidak lengkap sedangkan ia mengerti setidak-tidaknya patut dapat menduga bahwa kabar demikian akan atau mudah dapat menerbitkan keonaran di kalangan rakyat,” kata Albert, menjelaskan sangkaan yang dimaksud.

Lalu berapa ancaman hukumannya?

“Pelaku dapat disangkakan dengan ancaman penjara setinggi-tingginya 3 tahun penjara,” tegasnya.

Red

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button