NEWS

Barang Bukti BBM Selundupan Menyusut, Ini Penjelasan Ditpolair Babel

Lensabangkabelitung.com, Pangkalpinang – Barang bukti perkara penyelundupan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang saat ini kasusnya sedang Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairda) Kepolisian Daerah (Polda) Kepulauan Bangka Belitung mengalami penyusutan. Dari 700 ton BBM ilegal (sesuai dokumen), saat ini menjadi 513 ton.

Sebelumnya pada 20 Desember 2018 lalu, tim Hiu Macan Ditpolairda Polda Bangka Belitung berhasil mengamankan kapal tanker MT Majuan 5 yang membawa BBM ilegal saat melintas di Perairan Selat Bangka, Muntok, Kabupaten Bangka Barat. Turut diamankan satu orang nahkoda dan 14 Anak Buah Kapal (ABK).

Kepala Subdit Penegakan Hukum (Gakkum) Ditpolairda Polda Bangka Belitung Ajun Komisaris Besar Irwan Deffi Nasution mengatakan penyusutan barang bukti tersebut setelah pihaknya meminta perusahaan surveyor PT Sucofindo untuk mengecek dan menghitung ulang jumlah barang bukti, ternyata diketahui tidak sesuai dengan dokumen.

“Dokumen kapal jumlah BBM yang diangkut 700 ton. Tapi kita tidak mau mengambil resiko dan mengantisipasi ada dugaan kita bermain. Jadi kita minta Sucofindo untuk mengecek. Ternyata jumlahnya 513 ton atau selisih 187 ton dari yang tertera didokumen,” ujar Nasution kepada Lensabangkabelitung.com, Kamis, 10 Januari 2019.

Dengan adanya selisih barang bukti tersebut, kata Nasution, penyidik akan melakukan pengembangan perkara untuk mendalami penyusutan jumlah barang bukti dikarenakan persoalan apa.

“Bisa saja pemalsuan dokumen atau memang jumlah itu dari awal pengiriman atau menyusut secara alami. Ini akan kita cek kembali agar ditemui fakta yang sebenarnya,” ujar dia.

Menurut Nasution, pihaknya mengirimkan surat pemanggilan kedua terhadap KL, orang yang sesuai dokumen barang dianggap bertanggung jawab atas pengiriman BBM ilegal dari Palembang dengan tujuan Kalimantan itu.

“Pemanggilan pertama, KL ini tidak datang dengan alasan sakit. Jadi kita agendakan lagi pemeriksaan KL Senin ini. Surat pemanggilan pemeriksaan yang kedua ini sudah kita sampaikan ke yang bersangkutan,” ujar dia.

Nasution menuturkan perusahaan pembeli BBM tersebut telah memberikan konfirmasi ke penyidik Ditpolairda Polda Bangka Belitung bahwa perusahaan tidak mengetahui jika BBM yang dipesan ternyata ilegal.

“Perusahaan pembeli BBM itu juga merasa tertipu karena BBM yang akan dikirim ternyata ilegal. Dan mereka memberi dukungan kepada kita untuk menuntaskan perkara tersebut,” ujar dia.

Nasution menambahkan saat ini pihaknya sudah menetapkan status tersangka terhadap Hanjar Parwoko selaku nahkoda kapal tanker MT Majuan 5 dan dijerat pidana dengan Pasal 53 dan 54 huruf b Undang-Undang Nomor 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas (Migas) Juncto Pasal 55 dan 56 KUHP dan Pasal 62 ayat 1 Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

“Kita masih teus melakukan pengembangan dan bukan tidak mungkin akan ada tersangka baru dalam kasus tersebut,” ujar dia.

Penulis : yoo

Lensa Bangka Belitung

Portal Berita Terkini Bangka Belitung

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button