NEWS

Talkshow “Budaya Melayu Kekinian” Digelar

* Ahmadi Sofyan: Budaya Melayu Tidak Anti Modernisasi

Lensabangkabelitung.com, Bangka – Festival Seni Budaya Islam dan Festival Melayu Babel memperingati Maulid Nabi di Desa Kemuja, Kecamatan Mendo Barat, berlangsung meriah. Ribuan masyarakat memadati lapangan sepak bola Desa Kemuja tempat digelarnya acara untuk menyaksikan serangkaian acara yang digelar seperti rudat, rebana, dambus dan lain-lain.

Senin malam (27/11/2017) dilaksanakan talkshow dengan tema “Budaya Melayu Kekinian” dengan menghadirkan tiga orang narasumber, yaitu Prof. Agus Hartoko, Ian Sancin dan Ahmadi Sofyan.

Talkshow yang dipandu oleh Sukma Wijaya ini berlangsung hingga tengah malam. Masyarakat pun tidak beranjak dan menyaksikan talkshow hingga akhir.

Prof. Agus Hartoko mengatakan bahwa seni budaya melayu harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri, diberikan ruang dan wadah seperti untuk seniman mengapresiasi diri.

Sedangkan Budayawan Babel, Ian Sancin menyebutkan bahwa perlu adanya penataan budaya di Bangka Belitung guna menghadapi serangan budaya asing pada generasi muda.

“Pentingnya penataan budaya salah satunya sebagai filter terhadap budaya yang tidak sesuai dengan budaya kita. Salah satu bentuk penataan itu adalah adanya kegiatan dan festival seperti ini,”kata Ian Sancin.

Sementara itu, Ahmadi Sofyan saat mendapat giliran berbicara mendapat sambutan meriah oleh masyarakat Desa Kemuja. Wajar saja, pemerhati budaya sekaligus penulis ini adalah putra kelahiran Desa Kemuja.

Dia menyebutkan, budaya melayu kekinian adalah mengokohkan karakter yang lama namun tidak anti terhadap modernisasi. Sebagai contoh, kata dia adalah alat seni seperti musik dan tari melayu.

“Seni budaya melayu itu harus percaya diri, berani tampil ditengah modernisasi.

Jangan takut untuk menunjukan kemelayuan kita, baik seni, budaya, kuliner, adat istiadat, busana dan kehidupan sosial kemasyarakatan,”jelasnya.

Ia menyebutkan dalam menjaga kekokohan melayu, orangtua tidak boleh selalu menyalahkan, yang muda harus banyak belajar, banyak bertanya dan jangan cak cak macak (sok tahu-red).

“Kegiatan ini juga bertaraf nasional karena menghadirkan berbagai macam seni dan budaya, menampilkan sasando dari Nusa tenggara Timur dan kebudayaan dayak dari Kalimantan,”katanya.(**)

Lensa Bangka Belitung

Portal Berita Terkini Bangka Belitung

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button