LENSA NASIONALNEWS

Transformasi Ekonomi Versi Isyak Meirobie

IMG-20160429-WA0002
Lensa Bangka Belitung, Pangkalpinang РMenurut Isyak Meirobie, transformasi ekonomi adalah perubahan bentuk dari ekonomi  konservatif menuju ekonomi baru. Dia memaparkan secara garis besar terkait konsep perubahan struktur ekonomi, yang perlu direalisasikan itu. Proses perubahan tadi membuat sektor perekonomian masyarakat bergeser, sehingga penghasilan mereka meningkat baik pada sektor komoditi yang sama maupun ke sektor lain.

Hal itu disampaikan Isyak, ketika menjawab pertanyaan peserta seminar “Penyelenggaraan Kebangsaan Berbasis Kepulauan” oleh GP Ansor, kemarin di hotel Mitra. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) yang lambat dan turunnya perekonomian, membuat masyarakat makin terpuruk.¬† “Perekonomian kita turun di titik nadir terendah, pertumbuhan ekonomi 4 %. Makanya perlu ada transformasi ekonomi,” kata bungsu dari lima bersaudara ini.

Dengan moderator, dosen STAIN SAS Babel, DR Soleha, Isyak menjadi narasumber bersama Asisten I Pemerintah Provinsi (Pemprov), Amrullah Harun mewakili Gubernur Babel dan Ketua PB Nadlatul Ulama (NU), KH Aizuddin Abd Rahman. Dia pun menawarkan pergeseran dari sektor tambang ke perkebunan, dengan memberikan jaminan harga saat petani panen. “Belitung sudah menemukan jalur ekonomi barunya di sektor pariwisata, Bangka belum menemukan saya tawarkan kita coba melakukan transformasi di komoditi unggulan,” sarannya.

Wakil Ketua DPRD Belitung ini, tidak mau hanya berteori soal transformasi ekonomi ini. Awal bulan depan, dia pun akan membantu petani singkong karena kalau harus menjual hasil panennya akan merugi. Dia pun mensiasati agar singkong tadi memiliki nilai tambah, dengan memberikan kepastian jalur distribusi dan pasar untuk menjual. “Inilah salah satu transformasi ekonomi. Dari pada mereka harus merugi dengan hasil panen singkongnya. Maka kita perlu memberikan pasar dan jalur distribusi setelah memiliki nilai lebih,” cerita Isyak.

Kemudian, pria berkacamata ini menilai pemerintah sering melaksanakan program tidak memperhatikan infrastrukturnya, ketepatan waktu dan keperluan penerima program. Misalnya soal swasembada beras, tingginya harga jual beras lokal tentunya disebabkan biaya perawatan tinggi dan irigasi persawahan bermasalah. “Misalnya petani butuh bibit bulai Mei, baru dibagi Juli maka mereka harus membeli ke Lampung. Begitu juga pupuk, sering terlambat dan tidak sampai, belum lagi irigasinya,” beber Isyak.

Tidak sampai disitu, karena Babel daerah kepulauan maka pemerintah perlu memastikan tersedianya kebutuhan masyarakatnya. Sehingga penting mengurangi ketergantungan pasokan dari luar Provinsi, terkait bahan kebutuhan pokok. “Karena kita daerah kepulauan, maka stok barang pasti terganggu ketika pasokan melalui lalu lintas laut terkendala. Lalu ada tidak sinergi ekonomi antara Bangka dan Belitung,” sambung Isyak.

(Dnl)(alp)

Lensa Bangka Belitung

Portal Berita Terkini Bangka Belitung

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button