LENSA NASIONALNEWS

Iuran BPJS Meningkat, Kualitas Pelayanan Harus Ditingkatkan

Lensa Bangka Belitung, Pangkalpinang – Pemerintah secara resmi akan menarapkan tarif baru Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) yang mulai diberlakukan pada april mendatang. Hal ini sesuai dengan Perpres 19 tahun 2016 yang baru diterbitkan pekan lalu.

Pada Perpres 19 tahun 2016 ini diketahui ada perubahab iuran jaminan kesehatan untuk kelas 1, II, dan III mengalami peningkatan. Nominal kenaikan setiap kelasnya berbeda dan ini berarti seluruh peserta BPJS secara mandiri maupun perusahaan akan mengalami peningkatan pembayaran iuran.

Menurut Kepala BPJS Kesehatan Kantor Wilayah Bangka Belitung (Babel), Haris Prayudi dalam Jumpa Pers nya mengatakan kenaikan tarif iuran dikarenakan untuk keberlangsungan program. Selain itu berdasarkan peraturan perundang-undangan, bahwa maksimal dalam kurun waktu 2 tahun iuran program jaminan kesehatan harus dievaluasi.

“Adanya perubahan Perpres 19 tahun 2016 yang menyatakan ada penyesuaian tarif iuran yang mulai berlaku pada april mendatang ini bertujuan untuk kelangsungan program yang telah diperhitungkan sejak satu tahun yang lalu,” sebutnya pada awak media pada Rabu (16/3).

Adapun perubahan nominal iuran bagi peserta BPJS kelas III yakni RP 25.500 menjadi Rp 30.000. Sementara itu iuran perbulan bagi kelas II yakni Rp 42.500 menjadi Rp 51.000. Pada kelas I mengalami kenaikan yang paling tinggi yakni dari Rp 59.500 menjadi Rp 80.000.

“Penyesuaian tarif mulai Rp 4.500 hingga Rp 18.000, penyesuain paling besar berada di kelas 1,” sebutnya.

Menurut Haris pemerintah mengambil langkah untuk penyesuaian tarif ini dikarenakan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang juga disesuaikan dengan penyesuaian rasio distribusi peserta BPJS agar lebih merata dan tidak menumpuk di satu Faskes.

“Untuk Faskes layanan kesehatan di Babel 129 FKTP, dengan jumlah dokter 270 orang, dimana ratio 1; 2627, dibanding 1;5000 dengan jumlah peserta BPJS 61 persen dari jumlah penduduk Babel, dan secara nasional, Babel belum overload,” bebernya.

Sementara itu kepala dinas kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Mulyono Susant menyebutkan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien rumah sakit harus ditingkatkan kualitasnya seperti tersedinya rumah sakit tipe B untuk menangani pasien yang tidak bisa ditangani rumah sakit tipe C.

“Komitmen pemerintah untuk terus melakukan ini maka dilakukanlah penyesuaian dengan didukung APBD dan Kemenkes sangat menekankan pada peningkatan kualitas pelayanan. Secara bertahap kita akan melakukan upaya peningkatan akreditasi terhadap FKTP dan rumah sakit, agar bisa maksimal dalam memberikan pelayanan. Selama dua tahun BPJS ini memang masih dalam penyesuaian dan kita berusaha memberikan yang terbaik,” sebutnya.

Salah satu peserta BPJS, Mala Ramalia menyebutkan kenaikan tarif ini dirasakan memberatkan dirinya dan dinilai belum sesuai dengan pelayanan kesehatan yang diberikan rumah sakit. Dia mengeluhkan pelayanan rumah sakit ketika menggunakan klaim BPJS. Kondisinya berbedaa saat ia memutuskan untuk beralih menggunakan klaim swasta.

“Semakin berat membayarnya kelas 1 sudah Rp 80.000 dengan kondisi ekonomi yang seperti ini sangat memberatkan apalagi pelayanannya seperti itu, kadang-kadang saya juga bingung kalau pakai BPJS sama Mandiri itu beda pelayanannya, ini sebenarnya program membantu atau program pemerintah yang sekadarnya saja,” ujar wanita yang berprofesi sebagai pedagang ini.

Penulis : Krisyanidayati

(alp)

Lensa Bangka Belitung

Portal Berita Terkini Bangka Belitung

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button