LENSA TINSNEWS

Johan Murod : Ilegal fishinglah yang merusak biota laut

Lensa Bangka Belitung, Pangkalpinang –  Dewan Pembina Asosiasi Tambang Rakyat (Astrada) Provinsi Bangka Belitung (Babel), Johan Murod menampik statement yang menyatakan beroperasinya Kapal Isap Produksi (KIP) dapat merusak eksositem terumbu karang dan biota laut lainnya yang diutarakan sekelompok masyarakat yang menolak beroperasinya kapal isap produksi (KIP).

“Jadi begini orang selalu statement 80 persen terumbu karang rusak, datanya dari mana apakah mereka sudah menyelam di Babel yang luasnya 65.301 KM persegi kalau mereka belum menyelami laut ini ini datanya tidak akurat artinya itu hanya berita bohong,” ujarnya saat ditemui lensababel.com di ruang kerjanya pada Senin (18/1).

Ia menjelaskan mengenai siklus pertambangan di Babel, menurut analisanya rusaknya biota laut dan tidak terjaganya kelestarian sumber daya ikan disebabkan oleh maraknya ilegal fishing yang terjadi beberapa tahun belakangan.

“Penambangan timah sudah dimulau sejak 300 tahunlalu, bahkan  timah ini penghasil devisa non migas yang pertama. Coba kita ingat, tahun 1970an kita ke Pasar Padi meski sudah ada kapal keruk ikan itu masih banyak dipinggir pantai, namun sekitar tahun 2000an ikan-ikan itu mulai menghilang seiring dengan banyaknya kapal asing yang masuk ke perairan kita. Ini kan berarti bukan karena kapal isap melainkan ilegal fishing, bom, racun yang mereka gunakan parahnya ilegal fishing ini mulai dari laut natuna hingga ke laut babel ini.

Johan Murod menyatakan dirinya pernah melakukan survey kepada nelayan yang daerah tangkapannya beroperasi KIP dan hasilnya ialah setelah adanya kebijakan kementrian kelautan dan perikanan mengenai penenggelaman kapal asing yang tidak dilengkapi surat hasil tangkapan nelayan meningkat dua kali lipat.

“Kita pernag survey dengan metode wawancara dengan nelayan-nelayan kita baik di bangka, di belitung dan di kundur ternyata hasil nelayan itu meningkat dua kali lipat setelah ada kebijakan yang dikeluarkan menteri kelautan perikanan yang menenggelamkan kapal-kapal asing. Nah ini hipotesa saya ya sejak ilegal fishing berkurang ditengah maka ikan itu akan bergerak ke pinggir dan nelayan akan mendapatkan ikan yang banyak,” jelasnya.

Menurutnya maraknya aksi kontra terhadap KIP ini merupakan bentuk propaganda dari pihak asing yang menggunakan lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk menghentikan aktivitas KIP. “ini aksi ini kan karena ada yang menghasut, kalau menurut saya ini pihak asing, jadi seharusnya masyarakat pun diberikan pemahaman karena KIP memberikan kontribusi bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia juga meminta kepada masyarakat untuk bisa melihat persoalan ini dari dua sisi mengingat penambangan laut juga menyokong perekonomian rakyat. perusahaan pemilik KIP kerap kali menggelontorkan dana CSR untuk kepentingan rakyat desa setempat.

“Kalau semua mau diminta berhenti, kita pikirkan lagi ekonomi rakyat, banyak pemilik KIP yang tergabung dengan mitra PT Timah itu menyalurkan CSR ke rakyat yang dikelola oleh panitia dari masyarakat misalnya bangun masjid di desa itu, bangun jalan maupun memberikan bantuan sembako langsung bagi setiap rumah tangga, bahkan tak jarang masyarakat setempat itu kami libatkan untuk bekerja” tandasnya.

Penulis : Krisyanidayati

(alp)

Lensa Bangka Belitung

Portal Berita Terkini Bangka Belitung

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button