LENSA KRIMINALNEWS

Besi Banci tidak terbukti, Polda akan di Pra-peradilkan

Lensa Bangka Belitung, Pangkalpinang – Penyidik Subdit I Industri dan Perdagangan (Indag) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dit-Reskrimsus) Polda Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mendatangi toko bangunan CV Ultra Teknik yang berlokasi di jalan Jenderal Soedirman Nomor 8E pada Jum’at (4/12) siang.

Menurut Kasubdit I Indag, AKBP Rully Tirta mengakui tujuan penyidik mendatangi toko tersebut terkait dugaan pelanggaran meniagakan produk industri yang tidak memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) alias Besi Banci yang sedang ditangani pihaknya.

“Penyidik hanya melengkapi pemeriksaan saja terkait perkara besi yang diduga kuat Non-SNI. Disini kita memeriksa nota – nota Perniagaan (Jual Beli-red) dari pihak toko yang kasusnya sedang kita tangani. Kita pun belum memastikan apakah besi – besi Non-SNI itu terindikasi buat menyuplai proyek-proyek Pemerintahan, penanganannya pun belum mengarah kesana,” ujarnya.

Sebelumnya, Subdit I Indag Dit-Reskrimsus Polda Babel menyita ribuan batang besi cor dari 6 toko bangunan lantaran diduga melanggar ketentuan ukuran yang ditetapkan SNI. Penyidik pun menitipkan barang bukti perkara produk industri yang diduga tak memenuhi SNI kepihak Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan) Pangkalpinang.

Kuasa Hukum CV Ultra Teknik milik Hendra, yakni Yandi SH merasa terganggu atas langkah Penyidik Subdit I Industri dan Perdagangan (Indag) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dit-Reskrimsus) Polda Kepulauan Bangka Belitung (Babel) yang mendatangi toko kliennya.

“Kami nilai upaya penyidik ini tidak sah karena tidak ada izin dari Pengadilan. Dimana yang berkaitan dengan penyitaan ini kan tidak darurat, sedangkan disini hanya sebatas pemeriksaan saksi-saksi saja, belum satupun ada yang Tersangka. Kalau misalnya ini tidak terbukti, maka kita akan melakukan upaya hukum lainnya, yakni Pra-Peradilan,” tekan Yandi.

Yandi cukup berang ketika penyidik meminta nota-nota jual beli besi dari pemilik toko, karena menurutnya ini belum tentu berkaitan dengan perkara ini dan dianggap merugikan.

“Oktober lalu mereka menyita besi-besi, sekarang mereka melakukan penyitaan dengan bon-bon yang belum tentu berkaitan. Bon-Bon ini kan ada yang belum dibayar konsumen jadi ini kan menganggu jalannya usaha,” ujarnya

Menurutnya, pelaku usaha harus tetap dilindungi, terlebih para pelaku usaha bukan pihak yang membuat label Standar Nasional Indonesia (SNI), melainkan pihak pabrik. Sejatinya pihak pabrik yang harus ditindak dengan mewajibkan penarikan produk yang melanggar SNI. Tak sebatas itu, pihaknya pun merasakan adanya Diskriminasi terhadap para pelaku usaha.

“Aneh juga, kenapa yang lain tidak ditertibkan? Saya yakin seluruh toko yang berkaitan dengan produk bangunan pasti menjual besi alternatif dengan harga yang miring dan itu yang banyak dicari konsumen. Kalau mau dilakukan penertiban seharusnya seluruh dong, jangan hanya beberapa saja tapi seluruhnya juga diperiksa,” ungkap Yandi.

Sebelumnya 6 pelaku usaha yang diduga melanggar, yakni PT Fajar Indah milik Sunarto Jacob di jalan Depati Hamzah Kelurahan Semabung Baru Pangkalpinang, CV Ultra Teknik milik Hendra di jalan Jenderal Soedirman Kelurahan Taman Bunga dan TB Sinar Agung milik Arivanto alias Asen di jalan Jenderal Soedirman Kelurahan Gudang Padi.

Kemudian TB Lia milik Yulia di jalan Depati Hamzah Kelurahan Air Itam, TB Citra Abadi milik Maria Fransisca di jalan Raya Belinyu Desa Kudai Sungailiat serta TB CCL milik Ngit Njong di jalan Sinar Jaya Kelurahan Sinar Baru.

Adapun barang bukti yang diamankan aparat yakni sebanyak 4.585 batang besi non-SNI, terdiri dari 750 batang besi ukuran 8mm KHS SNI milik PT Fajar Indah, 150 batang besi 6mm polos dan 10 batang besi 12mm KSTY SNI milik CV Ultra Teknik. Lalu 800 batang besi 8mm SII SNI, 100 batang besi 10mm MI SNI dan 100 batang besi 12mm SII SNI milik TB Sinar Agung.

Selanjutnya 50 batang besi 6mm polos, 85 batang besi 8mm SII SNI dan 20 batang besi 12mm ED SNI milik TB Lia. Juga 600 batang besi 6mm polos, 200 batang besi 8mm SAS SNI dan 200 batang besi 10mm ES SNI milik TB Citra Abadi. Serta 500 batang besi 8mm SII SNI, 920 batang besi 10mm SII SNI dan 100 batang besi 12mm MI SNI milik TB CCL.

Perlu diketahui, penyidik sempat mengirim 20 sample ke laboratorium Institut Teknologi Bandung (ITB) dimana masing-masing sample yang diserahkan sepanjang 1,2 meter. Berdasarkan aturannya, untuk besi cor SNI berukuran 8mm minimal memenuhi standar toleransi kekurangan yakni 0,3 mm, sedangkan besi ukuran 10mm dan 12mm toleransinya 0,4 mm.

“Sedangkan untuk hasil uji lab sudah kita terima, namun baru bisa dipublikasikan setelah gelar perkara selesai, begitu juga dengan penetapan Tsk (Tersangka-red) nya. Sejauh ini kita sudah melakukan pemeriksaan kepada 26 saksi, termasuk para pemilik toko,” jelas AKBP Rully.

Penyidik pun siap menerapkan Pasal 8 ayat 1 huruf (a) dan (c) Undang-Undang Republik Indonesia (UU-RI) Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen subsidair Pasal 113 UU-RI Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan dengan ancaman hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp5 miliar.

Penulis : Krisyanidayati

(alp)

Lensa Bangka Belitung

Portal Berita Terkini Bangka Belitung

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button