LENSA NASIONALNEWS

ILS tidak berfungsi, Pilot mendarat manual

Lensa Bangka Belitung, Pangkalpinang – Wakil Gubernur (Wagub) Bangka Belitung (Babel), Hidayat Arsani melakukan inspeksi dadakan (sidak) di bandara internasional Depati Amir Pangkalpinang yang belum selesai hingga saat ini pada Senin, (23/11).

Tujuan utama Wagub sidak untuk melihat Instrument Landing System (ILS) yang tidak berfungsi selama lima tahun terakhir. ILS merupakan peralatan elektronik yang digunakan untuk membantu pesawat dalam melakukan pendaratan. Bahayanya selama ini pilot hanya menggunakan sistem manual untuk melakukan pendaratan yakni menggunakan insting dengan keterbatasan jarak pandang.

“ILS kalau untuk standar, harusnya sudah ada. Tapi sekarang kita tidak tau ada dimana, kemasannya sudah ada tapi tidak berfungsi, itu dia kenapa, kita akan cek fakturnya, Saya yakin sudah 5 tahun lebih ILS ini belum difungsikan. untuk masalah ini kita jangan diam saja,” tegasnya.

Dana yang dikucurkan untuk pengadaan ILS sebesar 10 Miiar jika peralatan ini tidak difungsikan sebagaimana mestinya merugikan kepentingan rakyat.”Katanya ILS sudah diserahkan ke Air Nav, tapi mana orang Air Nav, saya datang kesini, mereka tidak ada. Ada apa dengan alat ini? Saya yakin sudah lebih dari lima tahun alat ini ada, cuma sengaja ditutupi, dan katanya peralatannya sudah berkarat, kenapa selama ini kita diamkan saja, ini kan kepentingan rakyat uangnya juga besar untuk pengadaan ini lebih dari 10 miliar,” ungkap Dayat.

General Manager Angkasa Pura II, Eko Prihadi yang mendampingi Wakil Gubernur Babel, Hidayat Arsani saat peninjauan mengakui benar selama ini Bandara Depati Amir Babel tidak menggunakan ILS sebagai pemandu pilot mendarat, dan baginya ketidakadannya ILS ini bukan menjadi persoalan, karena dalam aturan, pesawat bisa mendarat dengan manual.

“Secara keseluruhan ada dua cara yang digunakan untuk landing, dengan manual dan dibantu ILS. Kalau secara manual, jarak pandangnya hanya 1.000-1.500 meter, dan jika pakai ILS, bisa sampai 2.500 meter, meski ILS itu yang terlihat hanya lokaliset, tahun 2013 sudah diserah ke Air Nav, dan secara aset belum pernah diserahterimakan. Dan kita berharap nanti bisa menggunakan ILS lagi,” harapnya.

Mantan Dirjen perhubungan udara, Sunaryo menjelaskan pesawat yang mendarat di Bandar Udara Depati Amir sudah berkapasitas Jet untuk itu penggunaan ILS diperlukan mengingat jika melakukan pendaratan secara manual memiliki resiko tertentu.

“Jadi gini ya kalau untuk bandara yang sudah didarati untuk pesawat-pesawat seperti Jet 737 dan jenis pesawat jenis lainnnya secara keamanan alangkah baiknya peralatan yang dibawah itu mendukung untuk bisa mendarat dengan baik karena ada ILS ada Autopilot, Kalau kita pakai manual itu resikonya ada ditambah lagi kalau kita pakai manual tanpa ILS landasan pada ketinggia 500 fit kita gak keliatan kita harus kembali, tapi kalau menggunakan ILS bisa 300 fit,” ujarnya.

Kepala sekolah penerbangan Nav Air ini menambahkan ILS memiliki pengaruh pada jarak pandang pilot saat mendarat dan sebagai bentuk antisipasi pendaratan. Menurutnya ILS diperlukan untuk keamanan dan kenyamanan saat mendarat.

“Ada pengaruh jarak pandangnya ILS itu termasuk hazart semuanya tergantung pilotnya jadi pilotnya harus ikut aturan kalau pakai ILS dia minimun terbang 300 fit. lah ini kan pak wagub mau mengajukan kepada pak Mentri supaya nanti diberi peralatan ILS, karena bandaranya ini sudah pesawat jet semua disini, jadi itu diperlukan untuk kenyamanan dan keamanan” terangnya.

Penulis : Krisyanidayati

(alp)

Lensa Bangka Belitung

Portal Berita Terkini Bangka Belitung

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button